TVRINews – Batu Raja, Palembang
Lintas Negara Asah Taktik Tempur di Hutan Sumatera
Latihan bersama berskala internasional kembali mencatatkan babak baru di medan tempur tropis Indonesia. Satuan Tugas Lintas Udara gabungan yang melibatkan prajurit TNI, US Army, serta kontingen dari JSDF, Indian Para, dan France Para melaksanakan rangkaian lanjutan operasi taktis di Pusat Latihan Tempur Kodiklat TNI AD, Baturaja, Sumatera Selatan sejak jumat 4 September 2026.
Agenda utama yang diusung dalam fase ini adalah materi Jungle Field Training Exercise (FTX). Berdasarkan laporan dari Pusat Penerangan TNI, pasukan multinasional tersebut bergerak secara terpadu setelah sebelumnya sukses menyelesaikan tahap infiltrasi menuju daerah operasi yang telah ditentukan.
Pergerakan taktis pasukan terjun payung gabungan ini tidak berjalan sendiri. Satgas Linud mendapatkan dukungan perlindungan tembakan artileri secara masif, serta bantuan tembakan udara dari Penerbad guna membuka jalur penetrasi yang aman di tengah vegetasi lebat.
Eskalasi latihan meningkat ketika satuan lapis baja dari kendaraan taktis Stryker milik Angkatan Darat Amerika Serikat diterjunkan untuk memperkuat daya gempur. Kombinasi infanteri lintas udara dan kendaraan tempur lapis baja ini dirancang untuk menciptakan efek kejut serta melumpuhkan pertahanan musuh secara cepat dan efektif.
Komandan Batalyon Infanteri 502/UY/18/2 Kostrad, Letkol Inf Ihsan Hanafi, menjelaskan bahwa materi latihan lapangan di medan hutan ini memiliki urgensi tinggi bagi kesiapan prajurit. Menurutnya, program tersebut bertujuan untuk mengasah kemampuan teknis dan taktis personel dalam menghadapi pertempuran hutan serta manuver di medan gunung.
"Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan profesionalisme individu, tetapi juga menjadi wadah strategis bagi para prajurit untuk saling bertukar ilmu pengetahuan dan mengevaluasi kemampuan tempur hingga standar internasional," ujar Letkol Inf Ihsan Hanafi dalam keterangannya.
Pelatihan gabungan bertajuk Super Garuda Shield 2026 ini melibatkan partisipasi aktif dari 21 negara mitra. Inisiatif pertahanan kolektif tersebut dirancang untuk memperkuat interoperabilitas antar-militer, meningkatkan tingkat kesiapsiagaan operasional bersama USINDOPACOM, serta memperkokoh pilar diplomasi pertahanan regional demi menjaga stabilitas keamanan di kawasan Indo-Pasifik.










