TVRINews, Jakarta
Keikutsertaan dalam International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 Tahun 2026 menjadi pengalaman penting bagi Kaindra Nadira Saidtama dan Aiden Gracio. Keduanya menjalani proses panjang, mulai dari belajar dan latihan intensif hingga mengikuti seleksi untuk dapat mewakili Indonesia di ajang internasional tersebut.
Siswa kelas 6 SDIT Bina Bangsa Sejahtera Kota Bogor, Kanindra akan berkompetisi pada bidang sains. Dalam persiapannya, ia menjalani latihan soal secara intensif serta mengikuti pembinaan secara daring dan luring.
Dukungan orang tua juga menjadi bagian penting dalam persiapannya. Sebelumnya, Kaindra berhasil meraih medali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang sains jenjang SD.
Pengalaman mengikuti OSN tersebut membantu Kaindra membangun kebiasaan belajar secara disiplin dan teratur.
“Senang sama bangga,” ujar Kaindra dalam keterangan yang diterima tvrinews, Senin, 5 Oktober 2026.
Kaindra juga mengajak teman-temannya yang memiliki ketertarikan pada sains tetapi masih kurang percaya diri untuk berani mencoba mengikuti pembelajaran maupun kompetisi.
“Dicobain dulu belajar sains atau ikut kompetisinya. Kalau lumayan suka, coba ikutin,”jelasnya.
Sementara itu, Aiden Gracio, siswa kelas 6 SD Witama Nasional Plus Srikandi Pekanbaru, akan mewakili Indonesia pada bidang matematika.
Untuk lolos ke IMSO-23, Aiden harus melewati tiga tahap seleksi, yakni seleksi daring hingga seleksi luring yang disertai latihan dan simulasi. Ia sebelumnya juga meraih medali emas sekaligus the best overall OSN bidang matematika jenjang SD.
Saat menghadapi soal yang sulit, Aiden menerapkan strategi dengan terlebih dahulu mengerjakan soal sejenis yang memiliki tingkat kesulitan lebih rendah. Setelah memahami konsepnya, ia kemudian mengembangkan cara tersebut untuk menyelesaikan soal yang lebih kompleks.
“Jangan takut untuk mencoba. Yang penting, kamu dapat penambahan ilmu. Jangan takut hasilnya, tapi cobalah mengikuti saja dulu biar kita dapat banyak ilmu pengetahuan,” ungkap Aiden.
63 Peserta Ikuti Pembinaan
Team Leader Indonesia untuk IMSO-23, Muchammad Fachri, mengatakan para peserta yang mengikuti pembinaan merupakan siswa berprestasi. Sebagian di antaranya merupakan peraih medali emas OSN.
Menurut Fachri, proses seleksi dilakukan melalui tiga tahapan, yakni dua tahap secara daring dan satu tahap secara luring. Dari proses tersebut terpilih sekitar 30 peserta.
Jumlah tersebut kemudian ditambah dengan peraih medali emas OSN sehingga total peserta dalam tim pembinaan mencapai 63 orang, terdiri atas 32 peserta matematika dan 31 peserta sains.
Fachri menjelaskan, tantangan yang dihadapi peserta tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi. Materi olimpiade memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan materi pembelajaran di sekolah.
Peserta juga dituntut mampu memahami serta menjawab soal dalam bahasa Inggris. Selain itu, mereka harus menjalani karantina selama lebih dari satu minggu dan berada jauh dari orang tua.
Meski demikian, semangat belajar para peserta menjadi salah satu hal yang membanggakan. Mereka memperoleh materi berdasarkan silabus yang diberikan oleh pengajar dari berbagai institusi dan pelatih olimpiade.
Antusiasme peserta dalam mengerjakan soal bahkan membuat tim pembina harus menyiapkan berbagai bahan latihan tambahan.
“Harapan saya dan kami semua dari tim Indonesia adalah peserta dapat meraih prestasi terbaik di IMSO-23. Dari seluruh proses yang sudah dilakukan, mulai dari tahap seleksi hingga karantina, kami berharap dapat meraih medali emas, baik di bidang sains maupun matematika. Mudah-mudahan juga ada peserta yang mendapatkan best overall , best theory , best exploration , atau best experiment . Kami juga berharap IMSO-23 menjadi salah satu ajang terbaik yang menghasilkan juara-juara dari tim Indonesia,”kata Fachri.
Dorong Penguatan Pendidikan STEM
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam IMSO-23 sejalan dengan fokus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam meningkatkan pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Menurutnya, ajang internasional seperti IMSO dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan sains dan matematika sekaligus membentuk karakter serta kepemimpinan.

“Melalui ajang ini, kami berharap lahir generasi ilmuwan baru, para pelajar cerdas yang tidak hanya unggul di bidang sains dan matematika, tetapi juga siap menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Hal ini juga mendukung prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat pendidikan karakter,” pungkasnya.
IMSO-23 tidak hanya menjadi ajang bagi para siswa untuk mengejar prestasi. Bagi Kaindra, Aiden, dan peserta lainnya, kompetisi tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas pengetahuan, mengasah kemampuan, serta membangun keberanian dalam menghadapi tantangan di tingkat internasional.










