TVRINews – Denpasar, Bali
Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali Resmi Dimulai untuk Mengatasi Krisis Lingkungan dan Mendukung Transisi Energi Nasional.
Pemerintah Indonesia bersama Danantara mengambil langkah strategis dalam mengatasi tantangan lingkungan perkotaan melalui dimulainya pembangunan fasilitas Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali.
Proyek infrastruktur ramah lingkungan ini dirancang untuk mengubah volume limbah harian yang masif menjadi sumber daya energi terbarukan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Berdasarkan keterangan resmi yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI senin 27 juli 2026, fasilitas di Pulau Dewata tersebut ditargetkan mulai beroperasi penuh pada penghujung tahun 2027.
Proyek ini diproyeksikan mampu memproses hingga 1.500 ton limbah setiap harinya, atau mencakup sekitar 80 hingga 90 persen dari total keseluruhan timbulan sampah harian di wilayah tersebut.
Inisiatif ini diposisikan sebagai tolok ukur serta model percontohan nasional dalam hal pengelolaan limbah modern. Pemerintah berencana memperluas pembangunan infrastruktur serupa ke sejumlah wilayah metropolitan dan daerah yang menghadapi status darurat sampah, termasuk Kota Bekasi, kawasan Bogor Raya, serta delapan titik strategis lainnya di seluruh nusantara.
Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 KLH/BPLH, Laksmi Widyajayanti, menggarisbawahi bahwa kehadiran fasilitas modern ini membawa dampak ganda yang signifikan bagi perekonomian dan ekologi nasional.
"Implementasi kebijakan ini diharapkan memberikan manfaat ganda, yakni menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, mengurangi emisi gas rumah kaca, sekaligus meningkatkan pasokan energi bersih nasional untuk memperkuat ketahanan energi, serta menciptakan sekitar 1.200 lapangan kerja hijau, peningkatan investasi teknologi ramah lingkungan, serta terbentuknya ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan," ujar Laksmi.
Kendati didukung oleh penerapan teknologi pengolahan tingkat tinggi di sektor hilir, pemerintah tetap mengingatkan bahwa efektivitas pengelolaan limbah secara keseluruhan sangat bertumpu pada partisipasi aktif warga di tingkat hulu. Kesadaran kolektif untuk mengelola limbah rumah tangga sejak dini dinilai krusial guna memastikan keberlanjutan sistem secara jangka panjang.
"Dengan adanya PSEL, bukan berarti semua sampah dapat dicampur. Pemilahan sampah sejak dari sumber merupakan kunci yang harus dimulai dari diri sendiri, tetap menjadi langkah yang sangat penting yang kami harapkan dari seluruh masyarakat," tegas Laksmi.
Melalui sinergi lintas sektoral ini, pemerintah menegaskan komitmen penuh untuk mengawal percepatan pembangunan infrastruktur hijau yang terukur dan tepat sasaran. Langkah tersebut diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan kebersihan perkotaan secara tuntas, tetapi juga mempercepat pencapaian target bauran energi bersih nasional demi masa depan Indonesia yang berkelanjutan.









