TVRINews, Magelang
Menag Nasaruddin Umar tekankan pentingnya adaptasi, solidaritas sosial, dan pelestarian lingkungan dalam menghadapi tantangan zaman.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak seluruh umat Buddha untuk terus menjaga semangat adaptif, optimis, dan inklusif di tengah dinamika perubahan zaman. Pesan tersebut disampaikan dalam peringatan Hari Raya Āsāḷha Mahāpūjā 2570 BE/2026 yang dihadiri ribuan umat Buddha di pelataran Candi Borobudur, Jawa Tengah, Minggu, 26 Juli 2026.
Sambutan Menteri Agama tersebut dibacakan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi. Dalam pesannya, Menag menegaskan bahwa nilai-nilai kebijaksanaan Asadha harus menjadi pegangan agar umat tidak kehilangan arah di tengah tantangan zaman.

(Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi. (Foto: Kemenag RI))
"Pesan kebijaksanaan Asadha mengingatkan seluruh umat Buddha agar senantiasa adaptif dan tidak kehilangan harapan saat menghadapi masa-masa penuh tantangan. Kepemimpinan umat yang inklusif, partisipatif, dan saling mengayomi hanya bisa lahir dari pikiran yang jernih dan kepekaan sosial yang tinggi," ujar Supriyadi saat membacakan sambutan Menag, dikutip dari siaran pers Kemenag, Senin, 27 Juli 2026.
Menag juga menyoroti kondisi makroekonomi global pada tahun 2026 yang turut berdampak hingga ke masyarakat, sehingga umat diimbau untuk mampu beradaptasi, hidup lebih efisien, serta memperkuat solidaritas dan semangat saling berbagi.
Wujudkan Cinta Kasih Melalui Aksi Pelestarian Lingkungan
Selain solidaritas sosial, Menag meminta agar ajaran cinta kasih (metta) diterjemahkan ke dalam aksi nyata, khususnya terkait etika ekologis dan penanganan krisis iklim. Menurutnya, mengasihi sesama makhluk berarti harus tampil di garda terdepan dalam menjaga daya dukung lingkungan serta merawat harmoni agama dengan pelestarian warisan budaya Nusantara.
"Agama harus bermakna bagi pelestarian bumi," tegasnya dalam pesannya yang mengenang momen historis pembabaran ajaran pertama Buddha Gotama kepada lima pertapa di Taman Rusa Isipatana.
Tradisi Indonesia Tipitaka Chanting Terus Berlanjut
Sementara itu, Bhikkhu Sri Subhapanno Mahathera menyampaikan bahwa rangkaian Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) yang digelar sejak 2015 kini telah menjadi tradisi spiritual tahunan yang kokoh bagi umat Buddha Indonesia.

(Bhikkhu, Sri Subhapanno Mahathera. (Foto: Kemenag RI))
Pelafalan paritta dan sutta yang dilaksanakan selama tiga hari di Candi Borobudur diharapkan mampu menghadirkan kedamaian bagi alam semesta serta menjadi sarana belajar langsung dari warisan kitab suci Tipitaka.
"Hari ini kita tidak hanya berpuja di sini, tapi kita belajar langsung dari guru sunyi kita. Semoga lantunan sutta yang dipetik dari kitab suci Tipitaka selama tiga hari ini benar-benar menggetarkan alam manusia dan alam dewata," pungkas Bhante Subhapanno.









