TVRINews, Jakarta
Kementerian Kehutanan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan tim gabungan meningkatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di Kalimantan Tengah.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memantau langsung penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, mulai dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), evaluasi Satgas Darat, hingga peninjauan posko karhutla.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Selasa, 22 September 2026 pukul 21.20 WIB, terdeteksi 932 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di seluruh Indonesia. Angka tersebut meningkat 244 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 688 titik.
Di enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah hotspot high confidence terbanyak, yakni 643 titik atau meningkat dari 228 titik.
Sementara itu, Kalimantan Selatan tercatat 68 titik, turun dari 71 titik. Kalimantan Barat sebanyak 50 titik, meningkat dari 36 titik.
Sumatera Selatan 17 titik, turun dari 23 titik. Adapun Jambi dan Riau tidak mencatat hotspot high confidencepada pemantauan terakhir.
Kementerian Kehutanan menegaskan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Data tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.
Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui groundcheck dan kondisi faktual di lapangan.
OMC dan Satgas Darat Dievaluasi
Penanganan karhutla di Kalimantan Tengah turut dilakukan melalui pengawasan operasi udara dan operasi pemadaman darat.
Pada Selasa, 22 September 2026, Raja Juli Antoni dan Suharyanto memonitor pelaksanaan OMC di Posko OMC Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya.
Pemantauan dilakukan untuk melihat kondisi meteorologis, potensi awan, kesiapan armada, serta pelaksanaan OMC dalam mendukung pembasahan wilayah yang rawan karhutla.
OMC menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pembasahan, terutama pada ekosistem gambut. Namun, pelaksanaannya bergantung pada ketersediaan awan potensial dan kondisi penerbangan.
Dari Posko OMC, keduanya melanjutkan pemantauan ke Pusdalops BPBD Provinsi Kalimantan Tengah untuk mengevaluasi perkembangan Satgas Darat. Evaluasi mencakup titik api, proses pemadaman, distribusi personel dan peralatan, serta kendala yang dihadapi petugas.
Operasi darat menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla, terutama ketika asap tebal dan jarak pandang rendah membatasi pergerakan helikopter water bombing.
Pada sore hari, pemantauan dilanjutkan ke Posko Karhutla Kabupaten Kapuas. Di lokasi tersebut, koordinasi dilakukan bersama pemerintah daerah dan unsur terkait untuk melihat perkembangan penanganan karhutla di lapangan.
Pemerintah mengerahkan 61 armada udara untuk mendukung penanganan karhutla. Sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan OMC, sementara 44 unit lainnya untuk water bombing.
Pengoperasian armada disesuaikan dengan lokasi kebakaran, potensi awan, arah angin, kondisi asap, jarak pandang, serta faktor keselamatan penerbangan.
Di darat, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan pihak terkait melakukan patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan api, pembasahan, mopping up, hingga pendinginan.
Khusus pada lahan gambut, pendinginan tetap dilakukan meskipun api tidak terlihat di permukaan karena bara dapat bertahan di bawah tanah dan kembali muncul ketika kondisi lahan mengering.
Kondisi Udara Masih Dipantau
Selain titik panas, pemerintah memantau kualitas udara, khususnya konsentrasi PM2,5, sebaran asap, kelembapan, arah angin, peluang hujan, dan jarak pandang.
Kondisi udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan masih perlu diwaspadai.
Beberapa lokasi tercatat berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan terdapat wilayah yang masuk kategori berbahaya.
BMKG juga memprakirakan adanya peluang pertumbuhan awan Cumulonimbus pada 23–29 September di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Informasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pelaksanaan operasi udara dan OMC.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Ketika kondisi udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.
Masyarakat juga diingatkan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Pengelola areal diminta memastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana, deteksi dini, serta sistem pengendalian kebakaran.
Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, atau satwa liar yang terdampak, masyarakat diminta segera melapor kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.










