TVRINews, Jakarta
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) industri melalui pendidikan vokasi guna mencetak tenaga kerja yang kompeten, siap kerja, dan mampu bersaing di tingkat global. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi mendukung transformasi industri nasional menuju Indonesia sebagai negara industri maju.
Komitmen itu disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat menghadiri Pelepasan Lulusan SMK-SMAK dan SMK-SMTI serta Studium Generale Serentak Tahun 2026 di SMK-SMAK Bogor, Kamis, 16 Juli 2026.
Agus mengatakan, pendidikan vokasi merupakan investasi jangka panjang untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan sektor industri. Menurutnya, kinerja industri pengolahan yang terus tumbuh membuka peluang besar bagi lulusan sekolah vokasi untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional.
"Industri pengolahan adalah tulang punggung ekonomi kita dan terus menunjukkan kinerja yang positif. Berdasarkan data BPS, pada Triwulan I Tahun 2026 industri pengolahan tumbuh 5,04 persen, menyumbang 19,07 persen terhadap PDB nasional, menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, serta memberikan kontribusi sekitar 82 persen terhadap ekspor nasional. Artinya, sektor industri bukan bidang yang sedang melemah, tetapi terus tumbuh dan membutuhkan tenaga-tenaga baru yang kompeten. Tangan-tangan para lulusan inilah yang akan menjadi bagian penting dari masa depan industri Indonesia," ujar Menperin Agus dalam keterangan resmi, Kamis, 16 Juli 2026.
Tahun ini, sebanyak 2.361 siswa dari sembilan SMK binaan Kementerian Perindustrian resmi lulus. Sekolah-sekolah tersebut memiliki berbagai bidang keahlian, seperti kimia industri, permesinan, otomasi industri, hingga mekatronika yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Menperin menegaskan, penguatan SDM industri sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong industrialisasi dan hilirisasi. Karena itu, keberadaan tenaga kerja yang kompeten menjadi faktor penting dalam mendukung daya saing industri nasional.
"Tidak ada hilirisasi tanpa laboratorium, dan tidak ada laboratorium tanpa analis. Tidak ada pabrik yang berjalan tanpa teknisi yang terampil. Cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur dunia tidak diwujudkan di ruang rapat, tetapi di meja laboratorium dan di lantai produksi. Di sanalah para lulusan SMK-SMAK dan SMTI akan mengambil peran penting," tegasnya.
Agus juga mengingatkan para lulusan untuk selalu menjunjung tinggi integritas dan profesionalisme saat memasuki dunia kerja.
"Keunggulan kompetensi harus dibarengi dengan kejujuran dan integritas. Hasil kerja seorang analis maupun teknisi akan dipercaya karena dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Menjaga integritas berarti menjaga mutu produk Indonesia, melindungi konsumen, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di pasar global," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), Doddy Rahadi, mengatakan kualitas lulusan sekolah vokasi Kemenperin telah mendapat pengakuan dari dunia industri.
"Hingga Juli 2026, sebanyak 1.483 orang atau 63 persen dari total 2.361 lulusan telah terserap bekerja di berbagai perusahaan industri. Capaian ini menunjukkan bahwa kompetensi lulusan SMK Kementerian Perindustrian sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri," ungkap Doddy.
BPSDMI juga akan memberikan pendampingan kepada lulusan yang masih mencari pekerjaan melalui asistensi pencarian kerja selama tiga bulan. Jika dalam enam bulan belum terserap, mereka akan mendapatkan program peningkatan kompetensi dan fasilitasi pemagangan.
"Bagi para lulusan yang masih dalam proses rekrutmen, BPSDMI bersama SMK akan memberikan asistensi selama tiga bulan ke depan untuk pencarian kerja. Selanjutnya, apabila dalam enam bulan masih belum terserap, akan diberikan program penguatan kompetensi spesifik maupun fasilitasi pemagangan guna mempercepat penempatan kerja," jelas Doddy.
Lulusan SMK Kementerian Perindustrian telah bekerja di berbagai perusahaan nasional, di antaranya PT Mayora Indah Tbk, PT Panasonic Gobel Energy Indonesia, PT Astra Daihatsu Motor, PT Toyota Boshoku Indonesia, PT Sucofindo, hingga PT LAPI Laboratories.
Selain tingkat penyerapan kerja yang tinggi, minat masyarakat terhadap sekolah vokasi Kemenperin juga terus meningkat. Pada tahun ajaran 2026, rasio pendaftar mencapai 1:12,2, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1:10,7.
Doddy menegaskan tingginya minat masyarakat menjadi motivasi bagi BPSDMI untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan vokasi agar mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan industri.










