TVRINews, Gresik
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, mengunjungi SMA Negeri 1 Gresik untuk mendorong penguatan pendidikan lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional melalui Program Adiwiyata.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya KLH/BPLH memperluas implementasi Program Adiwiyata, yakni program yang mendorong sekolah mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam proses pembelajaran dan membangun budaya pelestarian alam di lingkungan sekolah.
Dalam penilaiannya, KLH/BPLH menetapkan SMA Negeri 1 Gresik sebagai penerima penghargaan Adiwiyata Mandiri, penghargaan tertinggi bagi sekolah yang dinilai berhasil membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan.
Saat meninjau sekolah, Menteri Jumhur mengapresiasi berbagai fasilitas pendukung pengelolaan lingkungan yang dimiliki sekolah, seperti rumah persemaian (greenhouse) tanaman pangan, kolam budidaya lele, stan inovasi, hingga ruang terbuka hijau.
Pada kesempatan itu, ia juga menyerahkan bantuan drop box untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah terintegrasi di sekolah.
“Di SMAN 1 Gresik ini, dalam penilaian kami masuk kategori tertinggi, yaitu Adiwiyata Mandiri. Mereka mampu menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan dan menjadi contoh bagi institusi pendidikan di seluruh Indonesia,” ujar Menteri Jumhur dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis, 16 Juli 2026.
Berdasarkan data KLH/BPLH, sebanyak 156 dari sekitar 1.346 satuan pendidikan di Kabupaten Gresik telah menjadi Sekolah Adiwiyata sepanjang periode 2021–2026. Capaian tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat dalam membangun budaya peduli lingkungan.
Selain mendorong pelestarian lingkungan, Program Adiwiyata juga diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan sekolah. Peserta didik diajak mempelajari budidaya tanaman pangan, pemanfaatan lahan secara produktif, hingga pengolahan hasil panen yang memiliki nilai tambah.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut berharap konsep serupa dapat diterapkan di lebih banyak sekolah sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan.
“Kami ingin ini menjadi pilot project. Ketahanan pangan tidak harus dilakukan di lahan yang luas, tetapi bisa dimulai dari seluruh lahan yang tersedia di institusi pendidikan, kemudian hasilnya dapat diolah hingga memiliki nilai tambah,” ungkap Khofifah.
Melalui Program Adiwiyata, KLH/BPLH berupaya menjadikan sekolah sebagai ruang pembentukan karakter peduli lingkungan sejak dini. Program ini juga sejalan dengan semangat "No Generation Left Behind", yang menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan.










