TVRINews, Jakarta
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menegaskan kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor utama dalam keberhasilan mitigasi bencana tsunami. Menurutnya, kemajuan teknologi peringatan dini tidak akan efektif tanpa didukung pemahaman dan respons cepat dari masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Faisal saat membuka webinar bertajuk "A 20 Years Commemoration of the 2006 Pangandaran Tsunami: Understanding the Past and Strengthening the Future Resilience", yang digelar secara daring dalam rangka memperingati 20 tahun Tsunami Pangandaran 2006, Kamis, 16 Juli 2026.
Kegiatan yang diikuti sekitar 1.000 peserta melalui Zoom dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube InfoBMKG itu menghadirkan narasumber dari BMKG, Intergovernmental Coordination Group for the Indian Ocean Tsunami Warning and Mitigation System (ICG/IOTWMS), Pemerintah Kabupaten Pangandaran, serta para pakar kebencanaan.
Dalam sambutannya, Faisal mengatakan peringatan 20 tahun Tsunami Pangandaran bukan sekadar mengenang bencana yang pernah terjadi, tetapi menjadi momentum untuk mengevaluasi dan memperkuat sistem mitigasi bencana serta membangun ketangguhan masyarakat menghadapi ancaman tsunami.
Menurutnya, tsunami yang terjadi pada 17 Juli 2006 menjadi titik penting dalam pengembangan sistem peringatan dini di Indonesia. Peristiwa tersebut menunjukkan perlunya sistem yang terintegrasi, tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam merespons ancaman bencana.
“Selama dua dekade terakhir, sistem peringatan dini tsunami Indonesia telah mengalami transformasi yang sangat signifikan. Salah satu capaian terbesar adalah penguatan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) yang kini didukung jaringan sensor seismik real-time, ratusan stasiun pemantauan muka air laut, serta komputasi berperforma tinggi sehingga mampu menyampaikan informasi gempa dan peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa terjadi,” ujar Teuku Faisal Fathani dalam keterangan yang diterima tvrinews, Kamis, 16 Juli 2026.
Meski demikian, Faisal menegaskan bahwa teknologi hanyalah salah satu bagian dari sistem mitigasi. Keberhasilan peringatan dini sangat bergantung pada kesiapan masyarakat dalam memahami informasi dan segera melakukan tindakan penyelamatan.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengatakan peringatan 20 tahun Tsunami Pangandaran menjadi pengingat penting agar kesadaran masyarakat terhadap ancaman tsunami tidak memudar.
“Kesiapsiagaan hanya dapat terwujud apabila kesadaran tetap hidup. Peringatan ini bukan hanya untuk mengenang tragedi, tetapi memastikan pelajaran dari masa lalu tidak terulang bagi anak cucu kita,” ungkap Nelly.
Sementara itu, perwakilan Sekretariat UNESCO-IOC/ICG-IOTWMS, Dr. Srinivasa Kumar Tumala, mengapresiasi kemajuan Indonesia dalam membangun sistem peringatan dini tsunami yang kini menjadi bagian penting dari jaringan regional dan global.
“Kemajuan ini menunjukkan apa yang dapat dicapai melalui kerja sama regional, investasi yang berkelanjutan, kolaborasi ilmiah, dan kemitraan internasional. Namun, teknologi saja tidak cukup. Efektivitas sistem peringatan dini sangat bergantung pada masyarakat yang memahami risiko, mempercayai informasi peringatan, dan mengetahui apa yang harus dilakukan saat peringatan diberikan,” kata Srinivasa.
Dalam rangkaian peringatan tersebut, BMKG juga menampilkan berbagai upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, mulai dari simulasi tsunami di Desa Wapia-Pia, peluncuran buku Benteng Samudra, hingga seremoni Tsunami Ready Community 2026.
Pada kesempatan itu, BMKG menyerahkan sertifikat Tsunami Ready Recognition Programme kepada tujuh desa pesisir yang dinilai memenuhi indikator kesiapsiagaan tsunami sesuai standar UNESCO-IOC, yakni Desa Tua Pejat (Kepulauan Mentawai), Desa Amping Parak (Pesisir Selatan), Desa Citepus dan Desa Cikakak (Sukabumi), serta Desa Teluk Sepang, Desa Penurunan, dan Desa Lempuing (Kota Bengkulu).
Dalam sesi ilmiah, peneliti BMKG Pepen Supendi mengingatkan bahwa tsunami dapat terjadi meski guncangan gempa tidak terasa kuat sehingga masyarakat tidak boleh hanya mengandalkan peringatan resmi.
“Dua puluh tahun penelitian telah memperkaya pemahaman kita mengenai mekanisme tsunami earthquake. Kemajuan ilmu pengetahuan harus diiringi dengan peningkatan literasi dan kesiapsiagaan masyarakat, karena mitigasi yang efektif merupakan perpaduan antara sains, sistem peringatan dini, dan respons masyarakat yang cepat," ucap Pepen.
Sementara itu, Weniza menjelaskan sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) kini mampu menyampaikan informasi gempa dan peringatan dini tsunami dalam waktu sekitar tiga menit setelah gempa terjadi.
“Saat ini informasi gempa dan peringatan dini tsunami dapat didiseminasikan sekitar tiga menit setelah gempa terjadi. Namun kecepatan sistem harus diimbangi dengan kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengambil keputusan evakuasi sehingga risiko korban jiwa dapat diminimalkan,” ungkap Weniza.
Melalui peringatan 20 tahun Tsunami Pangandaran, BMKG menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta membangun budaya sadar bencana sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketangguhan Indonesia dalam menghadapi ancaman tsunami di masa mendatang.










