TVRINews, Jakarta
Kementerian Kehutanan terus mendorong keterlibatan generasi muda dalam upaya pelestarian hutan melalui program Forest Youthverse. Program yang dijalankan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) ini tidak hanya membekali peserta dengan pemahaman mengenai isu kehutanan dan lingkungan, tetapi juga melahirkan generasi muda yang mampu mengedukasi, berkolaborasi, serta menggerakkan masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan.
Program tersebut sejalan dengan arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menekankan pentingnya membangun ekosistem Generasi Pelestari Hutan (Genries) yang inklusif, berdampak, dan tumbuh dari masyarakat melalui pendekatan bottom-up movement.
Salah satu hasil nyata dari pembinaan tersebut adalah lahirnya Terra Future Leader, sebuah inisiatif yang digagas para alumni Forest Youthverse Regional Makassar. Mengusung semangat "dari generasi muda, untuk generasi muda", program ini menjadi wadah bagi anak muda untuk mempelajari persoalan lingkungan sekaligus menyusun aksi nyata di tingkat komunitas.
Melalui Terra Future Leader, sebanyak 40 generasi muda dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan mengikuti pelatihan di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tabo-Tabo. Para peserta dibekali pemahaman mengenai keterkaitan isu kehutanan, tanah, pangan, sosial, dan perubahan iklim melalui metode problem mapping, root cause analysis, praktik lapangan, hingga project-based learning.
Selain memperoleh materi, peserta juga didorong untuk mengidentifikasi persoalan lingkungan di daerah masing-masing, mencari akar permasalahan, menyusun solusi, dan mengembangkan proyek berbasis komunitas. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mencetak generasi muda yang menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan lingkungan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa peran generasi muda dalam menjaga hutan merupakan investasi penting bagi masa depan Indonesia.
"Keterlibatan anak muda dalam menjaga hutan bukan sekadar partisipasi simbolis, melainkan investasi strategis Green Talent nasional. Keberlanjutan hutan Indonesia berada di tangan generasi muda yang memiliki kesadaran ekologis dan kecakapan berbasis ilmu pengetahuan (scientific-based approach)," Raja Juli dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 4 Agustus 2026.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Luckmi Purwandari, mengatakan keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari jumlah peserta, tetapi juga dari kemampuan mereka mengembangkan gerakan pelestarian lingkungan di daerah masing-masing.
"Forest Youthverse tidak dirancang hanya untuk mencetak peserta, tetapi untuk melahirkan penggerak. Ketika alumni kemudian membangun ruang belajar, membina generasi muda lainnya, dan menggerakkan aksi di komunitas, di situlah terjadi efek ganda dari pembinaan. Satu generasi dibina, kemudian membina generasi berikutnya; satu penggerak tumbuh, kemudian melahirkan penggerak lainnya,"ungkap Luckmi.
Menurut Luckmi, model pembinaan tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem Genries yang terus berkembang melalui kolaborasi dan aksi nyata. Para alumni didorong menjadi edukator, mentor, inovator, sekaligus penggerak yang mampu membawa isu kehutanan lebih dekat kepada generasi muda di berbagai daerah.
Kementerian Kehutanan akan terus mengembangkan Forest Youthverse sebagai ruang pembelajaran, kolaborasi, dan aksi bagi generasi muda. Melalui ekosistem ini, diharapkan semakin banyak Genries yang berperan aktif dalam menyebarluaskan edukasi kehutanan, menjaga keanekaragaman hayati, serta mendukung pencapaian target iklim nasional secara berkelanjutan.









