TVRINews, Jakarta
Tidak semua prestasi diraih melalui jalan yang mulus. Bagi Charina Anggie Simbolon, menjadi salah satu lulusan terbaik atau Sapta Abdi Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XXXIII merupakan puncak perjalanan panjang yang dipenuhi kegagalan, doa, dan keteguhan hati.
Perempuan asal Kota Batam, Kepulauan Riau, itu berhasil mewujudkan cita-cita sang ayah untuk memiliki anak yang menjadi perwira.
Anggie lahir dan besar di lingkungan rumah dinas Kodim di Batam. Ayahnya merupakan prajurit TNI Angkatan Darat berpangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu), sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga.
Kesederhanaan keluarga membentuk karakter Anggie menjadi pribadi yang pantang menyerah dan selalu bersyukur.
"Saya hidup dan tumbuh dengan kesederhanaan. Orang tua saya mendidik saya untuk selalu bersyukur apa pun yang kita miliki," ujar Anggie dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurut Anggie, sang ayah memiliki impian yang belum sempat terwujud untuk menjadi seorang perwira. Harapan itu kemudian dititipkan kepada keempat anaknya.
"Papa bilang, karena beliau tidak bisa menjadi perwira, maka kami berempat diminta berjuang menjadi perwira melalui sekolah kedinasan apa pun yang kami pilih," ucap Angguie,
Perjalanan menuju IPDN tidak berjalan mudah. Setelah lulus SMA, Anggie beberapa kali mengikuti seleksi Akademi Kepolisian, Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kejaksaan, hingga seleksi IPDN pada 2021. Seluruh upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang masih harus membiayai adik-adiknya, Anggie sempat ingin bekerja. Namun, sang ayah memintanya untuk tetap melanjutkan perjuangan.
Selama masa penantian, Anggie menjadi relawan selama sembilan bulan di sebuah shelter yang mendampingi korban perdagangan manusia serta korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pengalaman itu semakin menguatkan tekadnya untuk mengabdi kepada masyarakat.
"Saya belajar bahwa hidup memang penuh perjuangan. Walaupun saya merasa gagal, Tuhan masih memberikan keluarga yang selalu mendukung saya," tutur Anggie.
Pada 2022, Anggie kembali mengikuti seleksi IPDN. Saat hasil Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) menunjukkan nilai yang memuaskan, ia tak mampu menahan haru.
"Itu saya langsung menangis. Saya bersyukur kepada Tuhan karena mungkin inilah jalan saya untuk membanggakan papa dan mama," kata Anggie.
Setelah dinyatakan lulus seluruh tahapan seleksi, Anggie resmi menjadi Praja IPDN. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya dengan sungguh-sungguh.
Setelah beradaptasi pada tahun pertama, ia berhasil meraih peringkat pertama di program studinya pada tingkat dua dan mempertahankan prestasi tersebut hingga tingkat tiga. Konsistensi itu mengantarkannya menjadi salah satu lulusan terbaik IPDN Angkatan XXXIII.
Bagi Anggie, penghargaan tersebut bukanlah pencapaian terbesar. Kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika kedua orang tuanya dapat menyaksikan dirinya dilantik langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Pamong Praja Muda.
"Ini yang bisa saya berikan kepada papa dan mama. Mereka bisa menyaksikan saya menjadi salah satu lulusan terbaik dan dilantik langsung oleh Presiden. Itu menjadi kebanggaan terbesar bagi orang tua saya," tutur Anggie.
Kini, setelah resmi menjadi aparatur sipil negara (ASN), Anggie bertekad terus mengembangkan kemampuan, termasuk melanjutkan pendidikan magister di luar negeri.
Pengalaman menjadi relawan juga memperkuat komitmennya untuk menjadi pelayan publik yang mengutamakan kepentingan masyarakat.
"Saya ingin menjadi seorang ASN yang benar-benar melayani, bukan untuk dilayani," kata Anggie.
Di akhir ceritanya, Anggie berpesan kepada generasi muda agar tidak menyerah mengejar cita-cita meski berasal dari keluarga sederhana.
"Jangan pernah putus asa dan jangan ragu dengan apa yang kamu miliki. Selama punya niat, motivasi, mau belajar dengan sungguh-sungguh, dan selalu mengandalkan doa, saya percaya semua bisa diraih," ujar Anggie.









