TVRINews, Jawa Timur
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Nganjuk menggelar Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Kegiatan ini digelar untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi gempabumi melalui edukasi, latihan, serta simulasi yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengatakan SLG menjadi salah satu upaya BMKG meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memahami risiko gempabumi dan langkah mitigasi yang diperlukan.
“Gempabumi merupakan salah satu potensi bencana yang perlu diwaspadai, termasuk di Kabupaten Magetan. Masyarakat memang tidak dapat menghindari terjadinya gempabumi, tetapi risiko dan dampaknya dapat dikurangi melalui kesiapsiagaan dan upaya mitigasi yang tepat,” ujar Teguh Rahayu dalam keterangan tertulis, dikutip, Senin, 28 September 2026.
Teguh menjelaskan, pemahaman mengenai gempabumi penting untuk membangun budaya sadar bencana. Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan dapat memahami informasi yang disampaikan BMKG serta mengetahui langkah yang tepat sebelum, saat, dan setelah gempabumi terjadi.
SLG diikuti 55 peserta dari berbagai unsur, di antaranya BPBD, TNI, Polri, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Kesehatan, satuan pendidikan, fasilitas kesehatan, media massa, relawan kebencanaan, dan masyarakat.

(Foto: BMKG)
Peserta memperoleh materi mengenai potensi sumber gempabumi, peta guncangan atau shakemap, informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami BMKG, serta langkah kesiapsiagaan menghadapi gempabumi.
Selain materi, peserta mengikuti Table Top Exercise (TTX) untuk melatih koordinasi dan pengambilan keputusan dalam kondisi darurat.
Kegiatan juga dilengkapi simulasi gempabumi kuat yang diikuti peserta dan tamu undangan. Simulasi mencakup tindakan ketika terjadi guncangan di dalam ruangan, evakuasi melalui jalur yang telah ditentukan, hingga berkumpul di titik aman.
“Pengetahuan mengenai tindakan yang harus dilakukan sebelum, saat, maupun setelah gempabumi menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan. Pengetahuan tersebut juga diharapkan dapat diteruskan oleh peserta kepada masyarakat di lingkungan masing-masing,”jelasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro menyambut baik pelaksanaan SLG karena dinilai dapat menambah pengetahuan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.
“Tujuannya untuk menyiapkan masyarakat kita ini tangguh menghadapi bencana. Untuk menuju ke sana, masyarakat harus mengerti bagaimana caranya menyiapkan diri menghadapi gempa,”ungkap Suyatni.
Suyatni menilai edukasi BMKG dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk memahami tindakan yang tepat ketika gempabumi terjadi dan menghadapi kondisi darurat secara lebih terarah.
Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Gerindra Supriyanto mendorong penguatan mitigasi bencana dengan memanfaatkan teknologi dan informasi yang disediakan BMKG.
Ia berharap pelaksanaan SLG dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dan aparatur daerah dalam memanfaatkan informasi BMKG untuk mendukung penyelamatan diri serta mengurangi risiko bencana.
Melalui SLG, BMKG terus meningkatkan literasi kebencanaan dan kesiapsiagaan masyarakat. Pemahaman mengenai potensi gempabumi serta langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah kejadian diharapkan dapat membantu masyarakat mengurangi risiko dan dampak bencana.










