TVRINews, Bogor
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong optimalisasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah sebagai bagian dari upaya mendukung kesehatan sekaligus kesiapan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, saat menghadiri kegiatan CKG Sekolah yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di SMP Negeri 5 Kota Bogor, Jawa Barat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono dan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan.
Pada 2026, pelaksanaan CKG tidak hanya diarahkan pada pemeriksaan kesehatan, tetapi juga mencakup tata laksana dan tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan. Khusus anak usia sekolah dan remaja, pemeriksaan dilakukan melalui CKG Sekolah agar layanan kesehatan dapat terintegrasi dengan lingkungan pendidikan.
Fajar mengatakan, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dapat menjadi penghubung antara sekolah dengan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk Puskesmas sebagai pelaksana CKG.
“Tadi saya sampaikan kepada Pak Wamenkes ini, bagaimana kita mengoptimalkan peran UKS ya. Karena UKS ini menjadi semacam jangkar di sekolah yang menghubungkan dengan Puskesmas, katakanlah. Kami juga melihat pengoptimalan UKS ini bisa memastikan pelaksanaan CKG bisa berjalan dengan baik karena di sekolah perlu ada PIC-nya (Person in Charge),”kata Fajar dalam keterangan tertulis, dikutip, Minggu, 30 Agustus 2026.
Menurutnya, keterlibatan UKS juga diperlukan agar hasil pemeriksaan kesehatan siswa dapat ditindaklanjuti melalui pembiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah.
Fajar menilai kondisi kesehatan peserta didik memiliki hubungan erat dengan kesiapan mereka dalam mengikuti proses pembelajaran. Anak yang sehat dinilai lebih siap untuk belajar dan memiliki motivasi yang lebih baik.
“Dan ini meningkatkan pada ujungnya adalah kesiapan anak-anak kita mengikuti proses pembelajaran. Jadi, CKG itu akan menunjang readiness, tingkat kesiapan anak-anak kita mengikuti proses pembelajaran. Jadi, itu juga berkorelasi langsung dengan motivasi belajar,”jelasnya.
SMP Negeri 5 Kota Bogor menjadi salah satu sekolah yang telah memiliki budaya hidup sehat. Sekolah tersebut sebelumnya meraih Juara I Lomba Sekolah Sehat tingkat Provinsi Jawa Barat.
Berbagai kegiatan pembiasaan telah diterapkan, antara lain Segar atau Senam Bugar, Markisa atau Mari Kita Sarapan, serta Cermin Sehatku. Program tersebut sejalan dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH), termasuk membiasakan siswa berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi berdasarkan prinsip Isi Piringku, dan memahami pertumbuhan tubuh.
“Banyak banget manfaatnya. Alhamdulillahnya karena kita bekerja sama. Yang susah itu ya konsistennya, konsisten dari kita sebagai guru dan anak-anak,”ungkap Rahmalia, Guru IPS sekaligus Koordinator Duta SMP Negeri 5 Kota Bogor.
Sekolah juga menjalin koordinasi dengan orang tua dan Puskesmas untuk melakukan tindak lanjut terhadap siswa yang membutuhkan perhatian berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan.
Budaya hidup sehat di sekolah tersebut turut didukung oleh 18 Duta Siswa yang menjalankan berbagai peran. Mereka di antaranya menjadi Duta Cegah Stunting, Duta Kesehatan, Duta Remako (Remaja Anti Rokok), Duta Anti-Bullying, Duta Sekolah Ramah Anak, hingga pendamping teman sebaya.
Praktik tersebut dinilai sejalan dengan semangat Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.
“Berkesinambungan banget dari Kemenkes, Kemendikdasmen. Betul. Pas banget gitu, luar biasa gitu program-programnya,”lanjutnya.
Dari sisi Kemenkes, Wamenkes Dante Saksono Harbuwono mengatakan kolaborasi lintas kementerian diperlukan agar hasil CKG tidak berhenti pada pemeriksaan kesehatan.
“Jadi koordinasi ini, kolaborasi ini, akan memberikan dampak bahwa CKG tidak hanya diperiksa kesehatannya, tetapi kemudian hasilnya diimplementasikan dalam bentuk program bersama di antara lintas kementerian,”ungkap Dante.
Sementara itu, Wamen PPPA Veronica Tan menilai CKG dapat menjadi pintu masuk untuk mendorong perubahan perilaku hidup sehat pada anak dan remaja.
“CKG ini saya selalu katakan itu sebenarnya program untuk entry point. Tapi apa sih mindset yang kita harus ubah? Adalah pola hidup sehatnya,”kata Veronica.
Manfaat CKG juga dirasakan langsung oleh siswa SMP Negeri 5 Kota Bogor. Rafiandi, siswa kelas IX, mengatakan pemeriksaan kesehatan membuat siswa lebih memahami kondisi tubuh dan dapat menjadi bekal untuk menjaga kesehatan.
“Menumbuhkan semangat belajar. Jadi, kita bisa mengetahui kondisi diri kita untuk bisa lebih fokus belajar ke depannya. Kita juga jadi tahu, misalnya jika kita kekurangan tinggi badan, maka kita bisa menyuplai makanan yang sesuai dengan prinsip Isi Piringku,”ujar Rafiandi.
Ia berharap program CKG dapat terus dilaksanakan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.
Fajar menegaskan, kolaborasi lintas sektor dalam CKG pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga mendukung terciptanya pendidikan yang berkualitas.
“Kalau kita bicara pendidikan yang berkualitas, bukan hanya proses pembelajarannya, tapi kesiapan anak kita untuk mengikuti proses pembelajaran. Nah, CKG punya peran besar di situ. Memastikan kesiapan anak-anak kita mengikuti proses pembelajaran dengan baik,”tambah Fajar.
Melalui optimalisasi UKS, keterlibatan Puskesmas, serta pembiasaan hidup sehat di sekolah, CKG diharapkan dapat membentuk lingkungan pendidikan yang mendukung anak untuk tumbuh sehat, aman, nyaman, dan lebih siap mengikuti pembelajaran.










