TVRINews, Jakarta
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan tiga prioritas utama dalam transformasi pelayanan kesehatan di Indonesia. Ketiga prioritas tersebut meliputi akses pelayanan, kualitas layanan, dan keterjangkauan biaya kesehatan bagi seluruh masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Budi saat memberikan sambutan dalam The 2nd National Forum of the Indonesian Health Council 2026 di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Forum yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 28–31 Oktober 2026 itu mengangkat tema Strengthening Competence and Professionalism to Enhance Patient Safety and Quality of Care.
Budi mengatakan, akses menjadi prioritas pertama dalam pelayanan kesehatan. Menurutnya, masyarakat harus memiliki kesempatan untuk bertemu dokter sebelum membahas kualitas pelayanan lebih jauh.
“Menurut saya, ada tiga hal utama yang harus menjadi perhatian dalam pelayanan kesehatan. Pertama, akses terhadap layanan kesehatan. Akses adalah hal yang paling utama. Sebelum berbicara mengenai kualitas pelayanan, kita harus memastikan masyarakat bisa bertemu dengan dokter,” kata Budi Gunadi saat memberikan sambutan, Jumat, 30 Oktober 2026.
Ia menekankan, jangan sampai ada pasien meninggal dunia sebelum mendapatkan kesempatan memperoleh pelayanan medis, termasuk bertemu dokter spesialis.
“Sebab, jika pasien tidak bisa mendapatkan akses untuk bertemu dokter, maka kualitas pelayanan yang baik sekalipun tidak akan ada gunanya,” lanjutnya.
Prioritas kedua adalah kualitas pelayanan kesehatan. Setelah akses tersedia, pemerintah perlu memastikan tenaga kesehatan memiliki kompetensi dan profesionalisme sesuai standar yang ditetapkan.
“Kedua, mutu atau kualitas pelayanan kesehatan. Setelah akses tersedia, kita harus memastikan bahwa pelayanan kesehatan yang diberikan memiliki kualitas yang baik dan memenuhi standar,” papar Menkes.
Selain akses dan kualitas, Budi menempatkan keterjangkauan biaya sebagai prioritas ketiga. Menurutnya, pelayanan kesehatan harus dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat agar tidak ada warga yang kesulitan memperoleh pengobatan karena kendala biaya.
“Ketiga, keterjangkauan biaya pelayanan kesehatan,” pungkasnya.
Kekurangan Dokter Jadi Tantangan Global
Dalam kesempatan tersebut, Budi juga menyoroti persoalan kekurangan dokter yang dihadapi berbagai negara, termasuk negara maju. Ia mengungkapkan, pengalamannya bertemu dengan sekitar 72 menteri kesehatan dari berbagai negara memberikan gambaran mengenai tantangan serupa dalam sistem pelayanan kesehatan global.
"Saya sudah bertemu dan berbicara dengan sekitar 72 Menteri Kesehatan dari berbagai negara. Pertemuan tersebut memberikan gambaran bahwa hampir semua negara menghadapi persoalan yang sama, yaitu kekurangan dokter. Tidak ada negara yang benar-benar merasa kelebihan dokter," terang Budi, pada kesempatan yang sama.
Selain kekurangan tenaga medis, keterbatasan akses pelayanan kesehatan juga menjadi keluhan masyarakat di berbagai negara.
"Selain itu, masyarakat di berbagai negara juga mengeluhkan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan," lanjutnya.
Budi mencontohkan Denmark sebagai salah satu negara maju yang masih menghadapi persoalan antrean pelayanan medis.
"Bahkan di negara maju seperti Denmark, antrean untuk mendapatkan tindakan medis masih cukup panjang. Masyarakat harus menunggu satu hingga tiga bulan untuk memperoleh layanan tertentu, terutama untuk tindakan yang tidak dianggap sebagai prioritas utama," kata Budi.










