TVRINews – Jakarta
BMKG Wanti-wanti Potensi Dampak El Nino Kuat terhadap Ketahanan Pangan
Indonesia kini berada dalam status kewaspadaan tinggi seiring dengan proyeksi penguatan fenomena anomali iklim El Nino yang diprediksi akan memperparah kondisi musim kemarau tahun ini.
Berdasarkan analisis terkini, otoritas meteorologi nasional memperingatkan potensi cuaca yang jauh lebih kering dengan durasi lebih panjang bagi sebagian besar wilayah tanah air.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa hingga pertengahan Juni 2026, hampir 38 persen zona musim di Indonesia telah memasuki fase kemarau. Situasi ini diperkirakan akan memuncak pada periode Juli hingga September, dengan lebih dari 80 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami curah hujan di bawah rata-rata normal hingga Oktober mendatang.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa fenomena ini menuntut kesiapsiagaan lintas sektor, terutama dalam menjaga stabilitas pasokan pangan nasional.
"Kami memproyeksikan puncak musim kering terjadi antara Juli hingga September. Mengingat intensitas El Nino yang berpotensi menguat, langkah mitigasi harus dilakukan lebih awal untuk menekan risiko gagal panen," ujar Ardhasena dalam keterangan resmi yang dirilis oleh Badan Komuikasi Pemerintah.
Lebih lanjut, ia menekankan perlunya adaptasi taktis bagi para pelaku sektor pertanian agar dapat bertahan di tengah keterbatasan cadangan air.
Strategi yang disarankan meliputi penyesuaian jadwal tanam, optimalisasi penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan (toleran terhadap kondisi kering), serta pelaksanaan diversifikasi tanaman pangan.
Untuk menjaga ketahanan pangan nasional dari ancaman kekeringan yang berkepanjangan. BMKG menyatakan akan terus mengintensifkan pemantauan terhadap dinamika iklim, baik dalam skala regional maupun global.
Sebagai bagian dari upaya transparansi dan kesiapsiagaan publik, badan tersebut berkomitmen untuk menyajikan pembaruan data prediksi iklim secara berkala setiap sepuluh hari.
Pemerintah melalui berbagai instansi terkait kini mulai mengintegrasikan data tersebut untuk menyusun langkah antisipasi yang lebih komprehensif, mengingat sektor pertanian menjadi salah satu pilar yang paling rentan terhadap perubahan pola cuaca ekstrem ini. Masyarakat diimbau untuk memantau informasi resmi secara rutin guna melakukan adaptasi mandiri yang tepat sesuai karakteristik wilayah masing-masing.










