TVRINews, Medan
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyampaikan apresiasi tinggi kepada Delapan Kesultanan di kawasan Sumatera Timur yang kini berada di wilayah Sumatera Utara. Apresiasi tersebut diberikan atas konsistensi mereka dalam menjaga harmoni sosial, nilai-nilai keagamaan, serta kelestarian kebudayaan di tengah masyarakat.
Menurut AHY, keberadaan Kesultanan tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga tetap relevan dalam menjaga kohesi sosial dan identitas budaya Melayu di Sumatera Utara.
"Saya melihat Kesultanan bukan hanya sebagai penjaga sejarah, tetapi juga penjaga nilai, penjaga persatuan, dan penjaga harmoni sosial di tengah masyarakat," kata AHY dalam keterangannya, Jumat 3 Juli 2026.
Ia mengapresiasi berbagai peran yang masih dijalankan Kesultanan melalui pengelolaan masjid-masjid bersejarah, pembinaan masyarakat, serta berbagai aktivitas sosial dan keagamaan yang terus hidup hingga saat ini.

"Pemerintah akan terus mendorong sinergi antara Kesultanan, pemerintah daerah, BUMN, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat agar manfaat pembangunan dapat semakin dirasakan oleh masyarakat sekitar," tegas AHY.
Dalam suasana penuh kekeluargaan bersama para Sultan, akademisi, dan cendekiawan Muslim Sumatera Utara, AHY menegaskan bahwa pembangunan yang kuat tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada kekuatan sejarah, budaya, dan kearifan lokal.
Delapan Kesultanan yang dulu berada di kawasan Sumatera Timur dinilai memiliki peran penting sebagai penjaga memori kolektif masyarakat Melayu. Sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan warisan masa lalu dengan cita-cita pembangunan masa depan. Menurutnya, kemajuan suatu daerah akan lebih kokoh apabila dibangun di atas identitas budaya yang kuat, penghormatan terhadap sejarah, dan partisipasi seluruh elemen masyarakat.
"Pembangunan yang berhasil tidak hanya menghadirkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu menjaga jati diri masyarakat. Kita tidak boleh kehilangan akar sejarah ketika melangkah menuju masa depan," ujar AHY.
Dalam kesempatan tersebut, AHY juga merespons aspirasi pengembangan wisata bahari berbasis budaya serta pemberdayaan masyarakat pesisir. Ia menilai potensi kawasan Pantai Timur Sumatera sangat besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus melestarikan budaya Melayu.
Selain itu, pemerintah akan terus mendorong koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah terkait penguatan kesejahteraan nelayan, perlindungan kawasan pesisir, rehabilitasi mangrove, serta pengembangan destinasi wisata berbasis budaya dan sejarah.
"Kesultanan telah menjaga warisan sejarah selama berabad-abad. Kini tugas kita bersama adalah memastikan warisan tersebut dapat menjadi kekuatan untuk membangun masa depan yang lebih sejahtera bagi masyarakat Sumatera Utara," tutup AHY.
Silaturahmi tersebut dihadiri oleh para Sultan dan tokoh adat delapan Kesultanan Sumatera Timur, antara lain Tengku Zainul Abiddin dari Kesultanan Kualuh Leidong, Tuanku Tengku Ahmad Thala'a dari Kesultanan Serdang, Tengku Faradiba dari Kesultanan Bilah, Tuanku Mahmud Aria Lamantjiji dari Kesultanan Deli, Tengku David Syah dari Kesultanan Panai, Tengku Irvan Bahran dari Kesultanan Kota Pinang, Tengku Arievanda Azis dari Kesultanan Langkat, dan Tengku Muhammad Alvin Anda Abdul Jalil Rahmadsyah dari Kesultanan Asahan.
Turut hadir pula Pemangku Agung H. Syarifuddin Siba, S.H., M.Hum., serta tokoh masyarakat Melayu Sumatera Utara Irwansyah Lubis bersama para akademisi dan cendekiawan Muslim Sumatera Utara.










