
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto meninjau fasilitas pengelolaan sampah berbasis teknologi yang dikembangkan perguruan tinggi di Kota Bandung. Dimana, dua kampus tersebut yang dikunjungi yakni Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Peninjauan ini dilakukan untuk melihat langsung kesiapan inovasi teknologi kampus dalam mendukung penanganan sampah nasional.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi berbasis riset yang dapat diterapkan secara nyata di masyarakat.
Di lokasi pengelolaan sampah, Menteri Brian berdiskusi dengan tim pengembang terkait mekanisme kerja teknologi, pengelolaan operasional, efisiensi biaya, hingga pemenuhan standar lingkungan.
Menurutnya, teknologi pengolahan sampah harus dapat diuji secara transparan dan memenuhi ketentuan lingkungan sebelum diterapkan secara luas.
“Kampus adalah tempat yang tepat untuk menguji teknologi secara terbuka dan objektif,” kata Brian Yuliarto kutip Sabtu, 8 Februari 2026.
Mendiktisaintek menekankan bahwa inovasi pengolahan sampah yang dikembangkan perguruan tinggi harus memperhatikan aspek pengendalian emisi dan keamanan lingkungan. Hal ini menjadi perhatian utama dalam peninjauan fasilitas berbasis teknologi termal dan plasma yang dikembangkan di Unisba dan ITB.
Rektor Unisba Harits Nu’man menyampaikan bahwa sistem pengolahan sampah di kampusnya dirancang dengan pendekatan ramah lingkungan.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah plasma untuk menetralisir gas berbahaya yang muncul dari proses pengolahan termal.
“Fungsi plasma ini untuk memecah gas berbahaya agar emisi yang dilepaskan tetap aman bagi lingkungan. Prosesnya sudah melalui beberapa tahap pengujian,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menjelaskan bahwa fasilitas pengolahan sampah di ITB saat ini masih dalam tahap penyempurnaan. Setelah uji coba dan sertifikasi rampung, sistem tersebut ditargetkan dapat beroperasi secara penuh dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar kampus.
“Kami menyiapkan sistem dengan pemilahan sampah yang lebih sederhana, sehingga mudah diterapkan, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat,” jelas Tatacipta.
Mendiktisaintek juga mendorong agar teknologi pengelolaan sampah hasil riset kampus dapat diintegrasikan dengan kebijakan pemerintah daerah.
Kolaborasi tersebut dinilai mampu menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan wilayah sekaligus menekan biaya pengelolaan sampah.
Sebelumnya, Menteri Brian juga menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam percepatan penanganan sampah nasional saat Rapat Koordinasi Percepatan Penanganan Sampah Nasional di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
Ia menyebut sejumlah kampus telah mampu mengelola sampah secara mandiri dengan kapasitas belasan ton per hari.
“Kampus tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga menjadi tempat pengembangan dan replikasi solusi pengelolaan sampah,” ujar Brian.
Melalui pendekatan tersebut, Kemdiktisaintek berharap inovasi teknologi pengolahan sampah dari perguruan tinggi dapat segera dimanfaatkan secara luas, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat, sebagai bagian dari solusi berkelanjutan penanganan sampah nasional.
Editor: Redaktur TVRINews
