TVRINews, Jakarta
Kerja sama bilateral Presiden Prabowo dan Emmanuel Macron sukses menghasilkan komitmen investasi baru untuk ekonomi Indonesia.
Kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke Prancis membuahkan hasil strategis bagi penguatan ekonomi domestik. Kerja sama bilateral kedua negara memasuki babak baru melalui peresmian France–Indonesia High Level Business Council yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, di Paris.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyatakan bahwa pembentukan dewan bisnis tingkat tinggi ini menjadi wadah bagi 30 pemimpin industri terkemuka dari kedua negara.
Entitas-entitas bisnis yang terlibat di dalamnya memiliki akumulasi kapitalisasi pasar gabungan yang sangat masif, yakni mencapai US$1,3 triliun (asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS).
Secara operasional, dewan bisnis ini dipimpin bersama oleh Antoine de Saint-Affrique, selaku CEO Danone sekaligus Chair France–Indonesia Business Council MEDEF International, dan Anindya Bakrie yang bertindak sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia.
Empat Kesepakatan Komersial Baru
Formalisasi aliansi bisnis ini langsung menghasilkan dampak konkret. Rosan mengungkapkan, pertemuan tersebut berhasil menyepakati empat komitmen komersial baru dengan nilai total mencapai US$3,5 miliar (sekitar Rp61,25 Triliun). Investasi tersebut akan dialokasikan secara terfokus pada tiga sektor krusial: ketahanan energi, ekspansi perdagangan, dan penguatan kerja sama industri pertahanan.
"Kepercayaan dunia usaha Prancis terhadap Indonesia terus meningkat. Kesepakatan yang tercapai menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra strategis yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang dan iklim investasi yang semakin kompetitif," ujar Rosan Roeslani dikutip Sabtu 30 Mei 2026.
Target Jangka Panjang dan Realisasi Komitmen
Melalui dewan bisnis yang baru dibentuk ini, Jakarta dan Paris menetapkan target ambisius untuk mendongkrak volume perdagangan bilateral hingga tiga kali lipat pada tahun 2035. Selain memproyeksikan pertumbuhan baru, forum ini memegang peran krusial sebagai pengawas implementasi berbagai kesepakatan terdahulu.
Sebagai catatan historis, kunjungan Presiden Macron ke Indonesia pada Mei 2025 sebelumnya telah menghasilkan 27 nota kesepahaman (MoU) dengan nilai investasi yang fantastis, yakni melebihi US$11 miliar.
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh rencana di atas kertas tersebut dapat bertransformasi menjadi proyek riil yang menguntungkan kedua belah pihak.
"Yang tidak kalah penting adalah memastikan seluruh komitmen tersebut dapat direalisasikan. Karena itu, forum ini akan menjadi sarana untuk mengidentifikasi hambatan, mempercepat penyelesaian berbagai kendala, dan memastikan investasi berjalan optimal," pungkas Rosan.










