TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen) mendorong lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) agar siap bersaing di pasar kerja internasional seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja terampil di berbagai negara maju.
Hal tersebut disampaikan dalam webinar bertajuk “SMK Berani Mendunia: Sekolah di Indonesia Berkarier di Dunia” yang digelar Jumat, 29 Mei 2026.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan perkembangan dunia kerja global membuka peluang besar bagi lulusan SMK Indonesia.
Menurut Tatang, sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman, hingga kawasan Timur Tengah saat ini mengalami kekurangan tenaga kerja produktif, sementara Indonesia sedang menikmati bonus demografi dengan jumlah usia produktif yang melimpah.
“Pertanyaannya apakah kompetensinya siap mendunia. Di sinilah pendidikan vokasi memegang peran penting,”ujar Tatang dalam keterangan tertulis, Sabtu, 30 Mei 2026.
Ia mengingatkan para siswa SMK agar tidak merasa minder karena dunia kerja saat ini membutuhkan tenaga terampil, disiplin, dan mampu beradaptasi dengan perubahan.
“Jangan minder jadi anak SMK karena dunia hari ini tidak hanya mencari orang pintar, tetapi juga orang terampil, disiplin, dan mau belajar,”jelasnya.
Tatang mengungkapkan, bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Kemendikdasmen telah memberangkatkan lebih dari 3.000 lulusan SMK untuk bekerja di berbagai negara.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa lulusan pendidikan vokasi Indonesia mendapat kepercayaan di pasar kerja internasional.
“Mereka adalah bukti nyata bahwa SMK mendunia bukan slogan semata,”ucapnya.
Ia juga mendorong para siswa untuk meningkatkan kemampuan teknologi, penguasaan bahasa asing, serta memperkuat karakter dan integritas agar mampu bersaing secara global.
Sementara itu, Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Kemendikdasmen, Arie Wibowo Khurniawan, menjelaskan pemerintah telah menjalankan program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1.
Program yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 64 Tahun 2026 tersebut dirancang untuk menyiapkan lulusan SMK bekerja di luar negeri melalui kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan negara tujuan.
Menurut Arie, tiga tahun pertama difokuskan pada penguasaan kompetensi inti, sementara satu tahun tambahan digunakan untuk memperkuat kemampuan bahasa asing, kompetensi kerja, kesiapan fisik dan mental, serta literasi hukum dan keuangan.
“Peluang kerja luar negeri bagi lulusan SMK sangat besar, tetapi harus dijawab dengan kesiapan bahasa, kompetensi, sertifikasi, dan perlindungan,”ungkap Arie.
Ia menambahkan transformasi SMK mendunia dilakukan melalui penguatan tata kelola sekolah, kurikulum, kemitraan industri, hingga layanan kesiswaan.
“Pekerjaan ini adalah hal besar tidak bisa dikerjakan sendiri. Ini harus dikerjakan oleh seluruh pihak,”lanjutnya.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari sekolah penerima program, salah satunya SMKN 1 Mundu, Jawa Barat.
Kepala sekolah, Sri Handayani, mengatakan pihaknya aktif menggandeng alumni yang telah bekerja di luar negeri untuk berbagi pengalaman kepada siswa.
Selain itu, sekolah juga menghadirkan guru tamu dari dunia industri guna membekali siswa dengan budaya kerja internasional.
“Kuncinya itu komunikasi dan itu telah dilakukan oleh SMKN 1 Mundu sejak tahun 1965,”kata Sri.
Cerita serupa disampaikan sejumlah alumni SMK yang kini bekerja di luar negeri, seperti Hadi Candra Maulana yang bekerja di Turki, serta Hafifa Indah dan Zahra Pratiwi yang bekerja di Jepang.
Mereka menilai pengalaman praktik kerja, pembelajaran berbasis industri, hingga pelatihan bahasa selama di SMK sangat membantu dalam beradaptasi di dunia kerja internasional.
“Dunia itu luas dan kita masih bisa mencapai titik-titik tersebut. Kalau batas dari karier tidak hanya di sini,”ungkap Hafifa.










