TVRINews, Jakarta
Presiden Prabowo Subianto mengingatkan bahwa berbagai konflik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan dunia harus menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk terus menjaga persatuan dan memperkuat kerja sama antarelit bangsa.
Hal itu disampaikan Presiden Prabowo saat membuka Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 bertema Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia di JCC, Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyinggung sejumlah konflik bersenjata yang hingga kini masih terjadi, mulai dari perang di Ukraina, konflik di Gaza dan Lebanon, hingga ketegangan di Iran, Yaman, serta Myanmar. Menurutnya, situasi tersebut menunjukkan besarnya dampak yang ditimbulkan ketika sebuah negara gagal menjaga persatuan dan stabilitas.
"Kita lihat apa yang terjadi di Ukraina, Gaza, Lebanon, Iran, Yaman, sampai Myanmar. Setiap hari kita menyaksikan perang dan konflik yang menimbulkan banyak korban," tambahnya.
Presiden menilai salah satu faktor yang membuat sebuah negara sulit berkembang adalah ketidakmampuan para elite untuk membangun kerja sama dan mengesampingkan perbedaan demi kepentingan nasional.
"Bangsa yang elitnya tidak bisa bekerja sama, bangsa itu tidak akan mencapai potensinya,"tegasnya.
Presiden Prabowo mengatakan Indonesia memiliki modal besar berupa keberagaman suku, agama, budaya, profesi, dan latar belakang. Namun, menurutnya, seluruh perbedaan tersebut harus menjadi kekuatan untuk membangun bangsa, bukan sumber perpecahan.
Ia mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk pemerintah, akademisi, tokoh masyarakat, dan dunia usaha, untuk terus memperkuat kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan global serta mewujudkan kesejahteraan rakyat.
"Kalau kita sama-sama mencintai tanah air, kita harus mampu mencari titik-titik persamaan dan bekerja sama demi kepentingan bangsa," tandasnya.










