TVRINews, Jakarta
Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno meluncurkan Jakarta Film Commission (JFC) sebagai upaya memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong Jakarta menjadi kota sinema dan pusat industri film nasional.
Rano mengatakan, JFC akan menjadi layanan terpadu yang memfasilitasi kebutuhan industri film dan audiovisual, mulai dari penyediaan informasi, koordinasi, hingga pendampingan proses produksi.
"Sebagai kota sinema, hari ini kami meluncurkan Jakarta Film Commission. Tugasnya mendukung pengembangan ekosistem perfilman, sekaligus memfasilitasi produksi film dan audiovisual di Jakarta melalui layanan informasi, koordinasi, dan fasilitasi industri," ujar Rano dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari laman Pemprov DKI Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap industri perfilman, Pemprov DKI Jakarta juga mengembalikan keringanan pokok Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) sebesar 50 persen bagi tontonan film nasional. Kebijakan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Nomor 531 Tahun 2026.
Menurut Rano, insentif tersebut diharapkan mampu meningkatkan jumlah produksi film nasional, khususnya yang diproduksi dan mengambil lokasi syuting di Jakarta.
"Keringanan ini menjadi insentif bagi rumah produksi agar semakin banyak membuat film, terutama di Jakarta, sehingga memperkuat posisi Jakarta sebagai kota sinema dan pusat perfilman nasional," terangnya.
Melalui program Filming in Jakarta, JFC akan menghadirkan layanan one stop service yang memudahkan proses produksi, mulai dari informasi lokasi, koordinasi, pengurusan perizinan, hingga akses ke berbagai lokasi syuting di ibu kota.
Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga berkomitmen mempercepat proses perizinan bagi produksi film yang menggunakan aset milik pemerintah daerah.
Rano menilai, kemudahan layanan tersebut akan meningkatkan daya tarik Jakarta sebagai lokasi produksi film, sekaligus membuka peluang investasi, menciptakan lapangan kerja bagi pekerja kreatif, dan memperkuat citra Jakarta melalui berbagai karya audiovisual.
Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan minat rumah produksi internasional terhadap Jakarta terus meningkat. Produser dari Korea Selatan, Malaysia, Singapura, hingga Brunei Darussalam disebut telah menyatakan ketertarikan untuk berproduksi di Jakarta. Bahkan, Netflix dikabarkan berencana memproduksi enam film di Jakarta.
"Ini menunjukkan ekonomi kreatif, khususnya perfilman, sedang tumbuh sangat pesat," ucapnya.
Rano optimistis industri film akan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi kreatif Jakarta. Berdasarkan data yang diterimanya, jumlah penonton film Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 telah mencapai sekitar 36 juta orang dan diproyeksikan menembus 120 juta penonton hingga akhir tahun.
Sementara itu, aktor sekaligus produser Reza Rahadian menyambut baik peluncuran JFC dan kebijakan insentif tersebut. Menurutnya, kemudahan perizinan dan transparansi biaya menjadi aspek penting untuk mendukung iklim industri film yang semakin sehat.
"Ke depan biaya perizinan di setiap lokasi syuting perlu diumumkan secara transparan agar pelaku industri dapat menyusun perencanaan produksi dengan lebih baik," kata Reza.










