TVRINews, Jakarta
Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Paruntu menilai defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 harus menjadi momentum untuk memperkuat daya saing ekspor nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor, terutama minyak dan gas (migas). Langkah strategis dinilai diperlukan agar tren surplus neraca perdagangan dapat kembali terjaga dalam jangka menengah dan panjang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 terutama dipicu defisit perdagangan migas yang masih cukup besar. Sementara itu, sektor nonmigas masih mencatatkan surplus sehingga menunjukkan daya tahan ekspor nasional masih cukup kuat.
"Defisit ini perlu kita lihat secara objektif. Penyebab utamanya berasal dari tingginya defisit sektor migas, sementara sektor nonmigas masih mampu memberikan surplus. Artinya, tantangan terbesar yang harus dijawab adalah bagaimana memperkuat daya saing ekspor sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor energi," ujar Christiany, dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu, 11 Juli 2026.
Ia menilai pemerintah perlu mempercepat hilirisasi industri agar ekspor Indonesia semakin didominasi produk bernilai tambah tinggi, bukan hanya komoditas mentah. Selain itu, diversifikasi pasar ekspor juga perlu terus diperluas agar pelaku usaha nasional tidak terlalu bergantung pada pasar tradisional yang sedang menghadapi perlambatan ekonomi global.
Christiany juga menekankan pentingnya memperkuat daya saing industri nasional melalui peningkatan produktivitas, efisiensi logistik, kemudahan perizinan, serta optimalisasi pembiayaan ekspor bagi pelaku usaha, khususnya UMKM yang memiliki potensi menembus pasar internasional. Menurutnya, sinergi antarkementerian, lembaga, BUMN, dan dunia usaha menjadi faktor penting untuk mendorong pertumbuhan ekspor yang berkelanjutan.
"Langkah yang perlu terus digenjot adalah memperkuat hilirisasi, memperluas akses pasar ekspor, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta memberikan dukungan yang lebih kuat kepada eksportir nasional. Dengan demikian, produk Indonesia akan semakin kompetitif di pasar global dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi," jelasnya.
Christiany menambahkan, keberlanjutan surplus neraca perdagangan tidak hanya bergantung pada peningkatan ekspor, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan impor produktif dan peningkatan kapasitas produksi di dalam negeri. Untuk itu, penguatan ketahanan energi, peningkatan investasi pada sektor manufaktur berorientasi ekspor, serta pengembangan industri substitusi impor perlu menjadi perhatian.
"Momentum ini harus menjadi bahan evaluasi agar Indonesia memiliki struktur perdagangan yang semakin kuat dan tangguh terhadap dinamika ekonomi global. Dengan memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan nilai tambah ekspor, dan mengurangi ketergantungan pada impor migas, saya optimistis neraca perdagangan Indonesia dapat kembali berada pada jalur surplus dan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional," tutup Christiany.










