TVRINews, Jakarta
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mendorong penguatan kolaborasi dalam mengembangkan wisata olahraga atau sports tourism di Indonesia.
Pengembangan sektor tersebut dinilai dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan pariwisata sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
“Kami meyakini bahwa desain besar ini akan menjadi fondasi penting yang semakin memperkuat posisi sports tourism sebagai salah satu motor pertumbuhan pariwisata Indonesia ke depan. Karenanya kita perlu terus bersinergi agar sports tourism di Indonesia dapat tumbuh menjadi lebih baik,” ujar Widiyanti dalam keterangan tertulis yang dikutip oleh tvrinews.com, Minggu, 4 Oktober 2026.
Menurutnya, olahraga memiliki potensi besar sebagai daya tarik pariwisata. Secara global, berbagai ajang olahraga mampu mendorong wisatawan melakukan perjalanan sekaligus meningkatkan pengeluaran selama berada di destinasi.
Survei Expedia mencatat 44 persen wisatawan bersedia bepergian ke luar negeri untuk menyaksikan atau mengikuti hiburan olahraga yang diminati, dengan rata-rata pengeluaran mencapai 1.500 dolar AS.
Sementara itu, UN Tourism mencatat sports tourism berkontribusi sekitar 10 persen terhadap total belanja wisatawan global dan diproyeksikan terus tumbuh hingga 2030.
“Peluang ini terasa semakin dekat bagi Indonesia karena gaya hidup masyarakat kita sudah bergerak ke arah yang sama,” ucap Widiyanti.
Indonesia dinilai memiliki modal kuat untuk mengembangkan wisata berbasis olahraga, mulai dari kekayaan alam hingga infrastruktur pendukung. Sejumlah ajang olahraga internasional juga telah memberikan dampak terhadap destinasi dan perekonomian daerah.
MotoGP Mandalika, misalnya, pada penyelenggaraan 2025 diperkirakan memberikan dampak ekonomi Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun.
Sementara HYROX Jakarta yang berlangsung pada 27-28 Juni 2026 diikuti 11.500 peserta dan menjadi salah satu ajang HYROX dengan jumlah peserta terbesar di kawasan Asia Pasifik. Sekitar 15 persen peserta merupakan warga negara asing.
Selain itu, terdapat berbagai ajang yang memiliki intellectual property, seperti Jakarta International Marathon, serta kegiatan olahraga yang dikembangkan sebagai pengungkit destinasi, termasuk rangkaian Geopark Run.
Namun, Widiyanti menilai pengembangan sports tourism masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah pemerataan penyelenggaraan event agar tidak hanya terkonsentrasi di destinasi tertentu.
“Untuk itu, Kemenpar secara konsisten mendorong pemerintah daerah, kementerian/lembaga, swasta, pemerhati pariwisata lainnya untuk merancang event olahraga yang lahir dari karakter dan keunikan lokal, bukan sekadar replikasi format yang sudah teruji di tempat lain,” tutur Widiyanti.
Tantangan berikutnya adalah daya dukung destinasi. Lonjakan kunjungan saat penyelenggaraan event dapat memberikan tekanan terhadap kapasitas akomodasi dan infrastruktur pendukung.
Selain itu, keberlanjutan kunjungan setelah event berakhir juga menjadi perhatian. Menurut Widiyanti, destinasi sports tourism yang matang harus mampu menarik wisatawan sepanjang tahun, bukan hanya ketika sebuah event digelar.
“Inilah mengapa kita terus mengembangkan produk wisata berbasis sports tourism tadi sebagai daya tarik di luar pekan event,” kata Widiyanti.
Tantangan lainnya mencakup standardisasi layanan, profesionalisme penyelenggara, serta pengelolaan risiko yang diperlukan untuk menghadirkan event olahraga berkelas dunia.
Widiyanti berharap berbagai tantangan tersebut dapat menjadi bagian dari penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga yang mulai dibangun secara kolaboratif.
“Kami menyampaikan apresiasi yang tinggi atas apa yang telah dicapai dalam event olahraga dan sports tourism Indonesia. Sebuah pencapaian yang sudah sangat baik dan akan menjadi semakin baik lagi setelah tantangan-tantangan yang ada kita selesaikan bersama,” ujar Widiyanti.










