TVRINews, Jakarta
Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan pentingnya menjadikan pendidikan sebagai pilar utama dalam Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional. Penegasan tersebut mengemuka dalam forum Focus Group Discussion (FGD) reviu dan validasi peta jalan riset bidang pendidikan yang berlangsung di Gedung D Kemdiktisaintek.
Forum ini dipimpin oleh Dirjen Risbang, Fauzan Adziman, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari akademisi, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, hingga pelaku industri.
Dalam arahannya, Fauzan menekankan bahwa pembangunan riset nasional tidak bisa lagi bertumpu pada pendekatan sempit berbasis STEM semata. Menurutnya, bidang sosial humaniora terutama pendidikan harus ditempatkan sejajar karena berperan langsung dalam membentuk kualitas sumber daya manusia.
“Pendidikan menjadi fondasi bagi seluruh bidang strategis. Ini menunjukkan bahwa agenda riset nasional tidak hanya fokus pada sains dan teknologi, tetapi juga memberi ruang yang kuat bagi sosial humaniora,” tegasnya kutip Senin, 18 Mei 2026.
Lebih lanjut, ia menuturkan jika penyusunan peta jalan riset pendidikan sendiri dikoordinasikan oleh Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Negeri Indonesia (ALPTKI) di bawah kepemimpinan Markus Diantoro.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa arah pengembangan pendidikan difokuskan pada tiga prioritas utama.
“Pertama, memastikan kesiapan lulusan pendidikan dasar dan menengah untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi,” ucap dia
Kemudian yang kedua, kata dia mendorong lulusan pendidikan tinggi agar adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika dunia kerja.
“Ketiga, memperkuat peran pendidikan nonformal agar memiliki kesetaraan akses, pengakuan, serta peluang dalam dunia kerja maupun kewirausahaan,” sebutnya
Markus menegaskan bahwa keberhasilan agenda strategis nasional sangat bergantung pada kualitas manusia. Karena itu, pendidikan harus menjadi fondasi yang berjalan seiring dengan pengembangan sektor lainnya.
“Pada akhirnya, semua bidang strategis bertumpu pada manusia. Tanpa sumber daya manusia yang unggul dan adaptif, sulit bagi kita untuk memenangkan persaingan global,” ujarnya.
Sejumlah masukan dari peserta FGD turut memperkaya penyusunan peta jalan tersebut. Perwakilan pemerintah daerah, asosiasi pendidikan, hingga industri seperti PT Pindad menyoroti berbagai isu krusial, mulai dari pemerataan guru, peningkatan literasi dan numerasi, hingga penguatan pendidikan anak usia dini.
Selain itu, pentingnya keselarasan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri juga menjadi perhatian. Hal ini mencakup pemetaan kompetensi, penguatan soft skills, serta kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja yang terus berubah.
Isu lain yang tak kalah penting adalah penguatan karakter dan nilai kebangsaan, serta pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial secara bijak. Peserta menekankan bahwa inovasi teknologi harus tetap memperhatikan aspek etika, integritas akademik, dan perlindungan anak.
Melalui forum ini, Ditjen Risbang berharap peta jalan riset pendidikan yang dihasilkan tidak hanya komprehensif, tetapi juga implementatif dan relevan dengan kebutuhan di lapangan.
“Dokumen tersebut diharapkan menjadi pijakan kuat dalam merumuskan kebijakan berbasis riset sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat kualitas talenta Indonesia menuju 2045,” pungkasnya.










