TVRINews, Cilacap
Universitas Al-Irsyad Cilacap (UNAIC) bersama Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) mendorong hilirisasi kelapa berbasis ekonomi hijau di Desa Wisata Widarapayung Wetan, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap.
Langkah ini diwujudkan melalui pelaksanaan Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) Tahun Anggaran 2026 yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) guna mendukung penguatan ekonomi masyarakat pesisir sekaligus mitigasi abrasi.
Kegiatan melibatkan sekitar 40 peserta dari unsur masyarakat dan kelompok mitra. Tim pelaksana UNAIC diketuai Raden Bagus Bambang Sumantri, bersama Tri Stiyo Famuji dan apt. Tri Kusuma Wardani.
Tim pendamping UNSOED dipimpin Karseno bersama Dr. Ruth Feti Rahayuniati dan Wahyu Adhi Saputro. Pelaksanaan program juga melibatkan mahasiswa, pemerintah desa, Kelompok Tani Wana Asri, serta Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunggal Makmur.
Widarapayung Wetan memiliki potensi komoditas kelapa dan talas lokal. Desa ini berada di kawasan pesisir selatan Kecamatan Binangun, memiliki luas sekitar 447,682 hektare, dan ditetapkan sebagai desa wisata melalui SK Bupati Cilacap Nomor 556/243/27/2023. Potensi tersebut masih perlu diperkuat melalui peningkatan keterampilan pengolahan, teknologi pascapanen, dan pemasaran produk.

Dalam program ini, masyarakat mendapat pendampingan pengolahan nira menjadi gula kelapa kristal alami dan gula kelapa cetak alami. Tim juga memperkenalkan TANGKIS, formula laru obat nira alami instan yang tercatat sebagai Paten Sederhana UNSOED Nomor IDS000006254, sebagai alternatif pengawet nira berbahan alami. Proses produksi gula kristal didukung dengan penggunaan ayakan 16 mesh.
Diversifikasi produk juga dilakukan melalui pelatihan pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) dengan mesin sentrifugasi dingin yang dilengkapi sensor Internet of Things (IoT) untuk memantau suhu ekstraksi secara langsung, dengan target suhu di bawah 38°C. Masyarakat turut diperkenalkan pada pembuatan nata de coco dan coconut chips agar hasil samping kelapa dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Sebagai bagian dari pendekatan ekonomi hijau, tim bersama masyarakat melakukan penanaman bibit kelapa genjah entok unggul yang didukung penggunaan biofungisida Trichoderma T10. Upaya ini diharapkan berkontribusi pada penguatan vegetasi di kawasan pesisir dan pengembangan komoditas kelapa dalam jangka panjang.
Program juga mendorong pengolahan talas menjadi tepung bebas gluten yang dapat dikembangkan sebagai bahan brownies dan cookies untuk produk kuliner serta oleh-oleh desa wisata. Pada sisi promosi, portal digital resmi https://www.desawisatawidarapayung.com dikembangkan sebagai sarana informasi dan pemasaran, reservasi wisata, serta pengenalan paket agroeduwisata yang mengangkat kelapa dan kuliner lokal.
Ketua tim pendamping UNSOED, Karseno menyampaikan bahwa kolaborasi lintas disiplin antara bidang Informatika dan Farmasi dari UNAIC serta Ilmu Pangan, Agronomi, dan Agribisnis dari UNSOED diharapkan membangun ekosistem pemberdayaan yang terintegrasi.
"Perpaduan alih teknologi, diversifikasi produk, dan digitalisasi desa wisata diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan memperluas peluang ekonomi masyarakat," ujar Karseno.
Melalui Kosabangsa 2026, UNAIC dan UNSOED berharap kelompok mitra semakin mampu mengembangkan produk kelapa dan talas secara berkelanjutan, memperkuat daya tarik Desa Wisata Widarapayung Wetan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan pesisir. Program ini terlaksana berkat dukungan pendanaan Kemdiktisaintek melalui Program Kosabangsa Tahun 2026 dengan Nomor Kontrak 2985/227/03/6.










