TVRINews, Jambi
Program reintroduksi orangutan Sumatera di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh menunjukkan perkembangan positif. Memasuki tahun ke-25 pelaksanaannya, pemantauan selama Januari hingga Oktober 2026 mencatat tiga temuan induk orangutan bersama anaknya di habitat alami.
Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Gebyar Andyono, mengatakan, temuan tersebut menjadi indikasi positif keberhasilan adaptasi orangutan setelah dilepasliarkan, sekaligus menunjukkan bahwa habitat di kawasan tersebut mendukung perkembangbiakan satwa.
"Kisah mereka juga membawa harapan bagi masa depan orangutan Sumatera di habitat alaminya,"kata Gebyar dalam keterangan yang diterima tvrinews melalui rilis Kemenhut, Jumat, 6 November 2026.
Salah satu orangutan yang terpantau adalah Candy, yang dilepasliarkan pada Maret 2006. Pada 12 Mei 2026, tim pemantauan Sumatran Orangutan Reintroduction Center (SORC) Sungai Pengian menjumpai Candy bersama anak keduanya yang berjenis kelamin betina dan diperkirakan berusia dua tahun.
Anak orangutan tersebut terlihat aktif bermain. Menjelang senja, Candy kemudian membangun sarang di tajuk pohon untuk beristirahat bersama anaknya.
Temuan berikutnya adalah Jeky Chan, orangutan betina yang kembali dilepasliarkan ke alam pada Juli 2015. Pada 28 September 2026, tim pemantauan menjumpainya bersama bayi jantan yang baru lahir dan diberi nama Jerry.
Kehadiran Jerry menjadi perkembangan baru bagi Jeky Chan setelah anak pertamanya, Jelly Bean, terpantau telah mandiri dan berpisah dari induknya pada Juni 2026.
Selanjutnya, pada 16 Oktober 2026, tim pemantauan kembali menemukan seekor induk orangutan bersama anaknya yang diperkirakan berusia tiga tahun. Keduanya terlihat sehat dan aktif. Namun, identitas induk masih ditelusuri untuk memastikan apakah pasangan tersebut merupakan temuan baru atau pernah tercatat sebelumnya.
Gebyar mengatakan, pemantauan secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam memastikan keberhasilan program reintroduksi orangutan, terutama untuk mengetahui perkembangan kemampuan satwa beradaptasi dan bertahan hidup di habitat aslinya.
"Kisah mereka memperlihatkan arti penting pemantauan setelah pelepasliaran. Dari tahun ke tahun, tim mengikuti perjalanan orangutan dalam beradaptasi, bertahan hidup, hingga mengasuh anak di hutan,"lanjutnya.
Menurutnya, kemunculan generasi baru orangutan setelah 25 tahun pelaksanaan program reintroduksi menjadi salah satu perkembangan positif upaya konservasi di Bukit Tiga Puluh.
Meski demikian, perlindungan habitat dan kolaborasi berbagai pihak perlu terus diperkuat agar orangutan yang telah lahir di alam liar dapat tumbuh dan berkembang tanpa gangguan.
Kementerian Kehutanan pun mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga kelestarian kawasan hutan. Perlindungan ekosistem Taman Nasional Bukit Tiga Puluh diharapkan dapat memastikan generasi baru orangutan Sumatera tetap hidup bebas di habitat alaminya serta menjaga keseimbangan ekosistem bagi masa depan.










