TVRINews, Bogor
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menegaskan Indonesia siap menyambut lebih banyak produksi film internasional untuk berlangsung di Tanah Air.
Pemerintah berkomitmen memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi unggulan lokasi syuting film dunia. Hal tersebut disampaikan Riefky saat meninjau langsung proses produksi film internasional Happy Eyes di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor.
Film Happy Eyes merupakan kolaborasi produksi berskala global antara rumah produksi Prancis, Moana Films, dengan studio film Indonesia, Jungle Run Productions. Proses syuting berlangsung sekitar 40 hari dan seluruhnya dilakukan di Indonesia, dengan lokasi utama di Taman Safari Bogor dan Tanjung Lesung, Banten.
Dalam kunjungannya, Riefky menyampaikan Indonesia terbuka bagi sineas dan rumah produksi dari berbagai negara yang ingin melakukan produksi film di Tanah Air. Menurutnya, kekayaan alam, keanekaragaman hayati, keragaman budaya, serta talenta lokal yang kompeten menjadi daya tarik Indonesia sebagai lokasi produksi film internasional.
"Indonesia ingin semakin membuka diri untuk produksi-produksi film dari berbagai negara. Hari ini kita menyaksikan tim produksi dari Prancis dan didukung oleh manajemen Taman Safari Indonesia yang juga sangat mendukung. Tentunya kita ingin bahwa culture Indonesia, alam Indonesia, tim production dan talent-talent Indonesia juga bisa semakin kolaborasi," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 9 Agustus 2026.
Lebih lanjut, ia menilai kolaborasi antara rumah produksi internasional dan industri perfilman Indonesia tidak hanya berdampak pada promosi Indonesia ke dunia. Kerja sama tersebut juga membuka peluang terjadinya transfer pengetahuan dan teknologi yang dapat memperkuat kapasitas industri film nasional.

"Karena dalam kolaborasi tidak hanya mempromosikan Indonesia tetapi juga ada transfer knowledge, ada transfer teknologi, dan banyak hal untuk mendukung industri film Indonesia sebagai diplomasi kita ke dunia internasional," ucap Riefky.
Produksi Happy Eyes sendiri melibatkan sekitar 40 kru asing dan 180 kru Indonesia. Keterlibatan tenaga kerja lokal tersebut menunjukkan besarnya peluang industri perfilman nasional untuk terlibat dalam produksi berstandar internasional.
Executive Producer Happy Eyes, Joe Yaggi, mengatakan produksi film tersebut melibatkan lebih dari 200 kru, dengan sekitar 70 persen di antaranya berasal dari Indonesia. Ia menyebut kru asal Prancis memberikan respons positif terhadap kemampuan kru Indonesia.
"Saya sangat menghargai bantuan dari Ekraf (Kementerian Ekraf) dan semua kementerian yang bantu kami dengan film ini. Kru kami kira-kira 200 orang dan 70% dari Indonesia. Kru dari Prancis mereka senang sekali kerja dengan kru kita, bukan hanya senang kerja dengan kru kita, mereka sangat impress dengan kru kita," kata Joe.
Menurut Joe, pengalaman tersebut menunjukkan kru Indonesia memiliki kesempatan untuk bekerja dalam produksi film berlevel internasional. Ia berharap semakin banyak produksi film internasional yang memilih Indonesia sebagai lokasi syuting.
Di sisi lain, Riefky menilai kehadiran produksi film internasional memberikan dampak berganda bagi perekonomian nasional maupun daerah. Selain menyerap tenaga kerja lokal, kegiatan produksi turut menggerakkan sektor akomodasi, perhotelan, kuliner, UMKM, transportasi, logistik, hingga pariwisata.
Produksi film internasional juga dinilai berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan setelah film dirilis, sekaligus mendorong peningkatan investasi asing atau Foreign Direct Investment (FDI) di subsektor perfilman.
Untuk mendukung masuknya lebih banyak produksi film internasional, Kementerian Ekraf terus memperkuat koordinasi lintas lembaga dan memberikan fasilitasi kemudahan bagi rumah produksi asing.
"Bahwa dalam memberikan dukungan film production internasional seperti ini kami juga terus berkolaborasi, sehingga dapat mempermudah dalam memberikan kemudahan, apakah itu kaitannya dengan visa, perizinan, kemudian juga untuk masuknya perlengkapan peralatan, hingga dikeluarkannya kembali," tutur Riefky.
Ia menegaskan kemudahan tersebut merupakan bagian dari tugas pemerintah untuk menciptakan ekosistem yang semakin kondusif bagi investasi di industri perfilman Indonesia.
"Inilah tugas dari pemerintah sehingga investasi di industri film Indonesia bisa semakin berkembang," imbuh Riefky.









