TVRINews-Addis Ababa
Gelombang kekerasan pasca-pemilu di wilayah Oromia menewaskan puluhan warga, memicu eksodus ribuan pengungsi, serta saling tuding antara pemerintah dan pihak milisi.
Gelombang serangan mematikan yang menyasar sejumlah pemukiman di wilayah Oromia, provinsi berpenduduk terbanyak di Ethiopia, dilaporkan menewaskan puluhan warga sipil di tengah pelaksanaan pemilu parlemen pekan lalu.
Pihak pemerintah federal menuding kelompok pemberontak berada di balik aksi kekerasan ini, sementara ribuan penduduk kini terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri.
Dalam pernyataan resminya, pemerintah Ethiopia mengonfirmasi terjadinya serangan tersebut dan melayangkan tudingan kepada Oromo Liberation Army (OLA). Kelompok ini aktif beroperasi di Oromia dan telah dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh otoritas setempat.
Kendati demikian, pemerintah belum merilis data resmi mengenai jumlah korban tewas maupun luka-luka. Sebelum pemungutan suara dimulai pada 1 Juni, OLA memang sempat mengeluarkan ancaman untuk mengganggu jalannya pemilu parlemen.
Mengingat akses perjalanan ke zona konflik yang sangat dibatasi serta minimnya informasi resmi dari otoritas terkait, verifikasi independen mengenai jumlah pasti korban jiwa masih sulit dilakukan. Namun, laporan lapangan dari saksi mata dan tenaga medis mengindikasikan skala fatalitas yang cukup besar.
Seorang tenaga medis di wilayah konflik mengungkapkan kepada AFP bahwa dirinya mencatat sedikitnya 56 korban tewas dan 50 lainnya luka-luka akibat rangkaian serangan yang melanda beberapa lokalitas dalam kurun waktu antara 31 Mei hingga 3 Terhitung Juni.
"Banyak warga yang hingga kini masih telantar dan tersebar di dalam hutan, bersembunyi di gereja-gereja, atau menumpang di rumah kerabat mereka," ujar tenaga medis tersebut, seraya menambahkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan besar masih akan bertambah.
Ia juga mengonfirmasi telah menangani para pasien dengan luka tembak dari senapan ringan, senapan mesin berat, hingga luka akibat senjata tajam seperti pisau dan parang.
Kesaksian Warga dari Garis Depan
Kekerasan di lapangan digambarkan berlangsung sangat mencekam. Dua orang saksi mata di zona Arsi mengonfirmasi bahwa mereka mengenali secara personal 11 warga yang tewas saat milisi OLA menyerbu desa mereka di Eleta Chefa. Serangan di desa tersebut dilaporkan terjadi dua kali, yakni pada tanggal 31 Mei dan 1 Juni, dengan keterlibatan ribuan anggota milisi.
"Para milisi menggunakan senapan mereka untuk memburu dan membunuh penduduk. Saya beruntung bisa selamat dari serangan itu," kata salah satu saksi mata di Eleta Chefa saat diwawancarai AFP Minggu yang dikutip MInggu 7 Juni 2026.
Menurut penuturannya, kelompok penyerang menyasar komunitas Kristen Ortodoks yang dinilai berpihak pada pemerintah federal serta warga Muslim yang mencoba melindungi mereka. "Kami berlari menyelamatkan diri, termasuk orang tua dan anak-anak. Saya memperkirakan hingga 3.000 penduduk telah melarikan diri dari daerah tersebut," tambahnya.
Saksi mata kedua menceritakan kerugian materiil masif yang dideritanya. "Rumah saya habis terbakar dalam serangan itu, sementara hasil panen dan hewan ternak saya semuanya dijarah," ujarnya. Ia juga mengungkap fakta memprihatinkan bahwa dirinya baru saja kembali setelah sempat mengungsi selama satu tahun akibat serangan serupa pada Agustus 2024.
*Eskalasi Politik dan Respons Pemerintah*
Kantor Perdana Menteri Abiy Ahmed telah menyampaikan ucapan belasungkawa resmi atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa ini. Di sisi lain, OLA melalui pernyataan resminya di platform X membantah tuduhan tersebut dan berbalik menuduh pemerintah secara aktif menyulut serta membiarkan kekerasan antarkomunitas terjadi.
Rangkaian serangan ini membayangi jalannya pemilu di Ethiopia. Meski hasil resmi pemungutan suara belum dirilis, Partai Kemakmuran (Prosperity Party) pimpinan PM Abiy Ahmed diproyeksikan akan kembali meraih kemenangan besar.
Secara geopolitik dan militer, kekuatan OLA tercatat mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2018, kelompok ini diperkirakan hanya beranggotakan beberapa ribu milisi, namun jumlahnya melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Walau pengamat menilai kelompok ini belum menjadi ancaman eksistensial yang dapat menggulingkan pemerintah federal secara langsung, rekam jejak mereka dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kapasitas operasional yang konsisten untuk meluncurkan serangan-serangan mematikan di tingkat regional.










