TVRINews -Jakarta
Pemerintah mempercepat transformasi industrialisasi dan hilirisasi nasional melalui optimalisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri guna meredam tekanan rantai pasok global serta memperkokoh ketahanan ekonomi domestik.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang terus membayangi stabilitas rantai pasok energi dunia, Pemerintah Republik Indonesia menegaskan kembali komitmen strategisnya terhadap penguatan kapabilitas industri manufaktur dan rekayasa domestik. Kebijakan ini ditempuh sebagai fondasi utama untuk mengakselerasi agenda hilirisasi komoditas serta mewujudkan swasembada energi yang berkelanjutan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menggarisbawahi bahwa lanskap ekonomi global masih diwarnai oleh volatilitas yang tinggi. Oleh karena itu, kemandirian sektor energi menjadi pilar mutlak yang tidak dapat ditawar demi mengamankan stabilitas makroekonomi jangka panjang.
“Dinamika global yang sulit diprediksi menuntut korporasi energi nasional untuk terus mendiversifikasi sumber pasokan. Implementasi bensin nabati B50 serta tuntasnya proyek perluasan kilang di Balikpapan membuktikan bahwa ketergantungan kita terhadap impor solar kini berhasil dieliminasi.” Jelas Menko Airlangga dikutip Kamis 23 Juli 2026.
Langkah progresif tersebut sejalan dengan kerangka kebijakan Asta Cita yang menempatkan ketahanan energi pada lapis terdepan pembangunan nasional. Pemerintah menilai bahwa ketersediaan energi yang stabil dan terjangkau merupakan prasyarat fundamental bagi seluruh sektor produktif, mulai dari industri manufaktur skala besar hingga ekosistem ekonomi digital yang sedang bertumbuh pesat.
Menjaga Daya Beli Dan Stabilitas Harga
Selain fokus pada ekspansi kapasitas hulu dan hilir, Pemerintah tetap konsisten menjaga daya beli Masyarakat kelas bawah melalui intervensi harga energi. Kebijakan alokasi subsidi untuk bahan bakar tertentu tetap dipertahankan, termasuk penetapan tarif khusus Solar yang kompetitif bagi armada kapal nelayan skala 30 hingga 200 gros ton (GT) guna menopang sektor kelautan dan perikanan.
Kinerja perekonomian nasional sendiri tercatat berada pada jalur yang solid. Sepanjang triwulan pertama tahun 2026, ekonomi Indonesia mampu tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year), menempatkannya di jajaran teratas pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota G20. Sementara itu, tingkat inflasi domestik berhasil dikendalikan di bawah kisaran 3,5 persen.
Sebagai instrumen pelengkap untuk menekan biaya produksi sektor manufaktur, otoritas fiskal turut memberlakukan pembebasan tarif bea masuk (nol persen) untuk sejumlah bahan baku penting seperti LPG serta produk polipropilena dan polietilena selama periode enam bulan.
Optimalisasi Kapasitas Rekayasa Tehnik Dalam Negeri
Dalam forum P3DN Summit yang dihadiri oleh jajaran petinggi kementerian serta direksi PT Pertamina (Persero), Menko Airlangga secara khusus menyoroti alokasi belanja modal (capital expenditure) di sektor migas dan petrokimia.
Ia mendorong agar porsi pengerjaan teknik bernilai tinggi, seperti permesinan berat, komponen elektrik, dan rekayasa konstruksi (EPC), dapat lebih banyak diserap oleh talenta serta industri rekayasa lokal.
Pemerintah juga mengarahkan agar proyek-proyek strategis nasional di wilayah maritim terluar, seperti Andaman Project di lepas pantai Aceh, mengoptimalkan pemanfaatan wilayah setempat sebagai pusat logistik (laying downarea). Pendekatan ini diyakini mampu melipatgandakan dampak ekonomi regional serta menyerap tenaga kerja lokal secara maksimal.
“Kita menghendaki agar seluruh rangkaian rekayasa teknik ini dikerjakan oleh para insinyur anak bangsa. Komponen seperti kepala sumur, katup, bejana tekan, hingga produk kimia penunjang kini telah mampu diproduksi di dalam negeri, sehingga nilai tambah ekonomi benar-benar berputar di dalam negeri.” Tambah Airlangga
Menutup pandangannya, Airlangga mengingatkan bahwa jendela peluang ekonomi Indonesia saat ini harus dimanfaatkan secara optimal dalam rentang tiga hingga empat tahun ke depan sebelum peta persaingan global kembali bergeser. Kombinasi harga energi yang kompetitif, ketersediaan tenaga kerja terampil, serta ekspansi kawasan industri modern menjadi modal utama untuk memenangi kompetisi regional.
Acara strategis tersebut turut dihadiri oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Wakil Menteri UMKM Helvi Moraza, Komisaris Pertamina Hasan Nasbi, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri, serta sejumlah pejabat tinggi negara dan direksi Badan Usaha Milik Negara terkait.










