TVRINews – Jakarta
Mantan Ketua Umum KOWANI menekankan pentingnya menjaga marwah organisasi sebagai wadah pemersatu bangsa di tengah dinamika internal yang tengah terjadi.
Dinamika internal yang tengah mendera Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) memancing perhatian para tokoh senior. Mantan Ketua Umum KOWANI, Giwo Rubianto Wiyogo, secara terbuka menyampaikan keprihatinannya atas situasi yang berkembang di tubuh federasi organisasi perempuan tertua di tanah air tersebut.
Giwo mengingatkan bahwa esensi utama kehadiran KOWANI sejak kelahirannya pada tahun 1928 adalah menjadi simpul persatuan, bukan sebaliknya. Fondasi historis tersebut, menurutnya, harus senantiasa dirawat oleh seluruh kader dan elemen organisasi tanpa terkecuali.
"Sangat prihatin. Sebenarnya KOWANI adalah wadah pemersatu untuk persatuan dan kesatuan," ujar Giwo saat memberikan tanggapannya mengenai situasi organisasi tersebut dikutip Kamis 23 Juli 2026.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa potensi perpecahan maupun munculnya dualisme kepengurusan merupakan ancaman serius bagi integritas organisasi. Nilai-nilai historis yang diwariskan oleh para pendiri bangsa menuntut KOWANI untuk tetap solid sebagai rumah bersama bagi seluruh kaum hawa di Indonesia.
"Jadi ingat bahwa KOWANI tidak boleh ada dualisme. Harus sebagai pemersatu," tambahnya dengan nada tegas.
Sebagai informasi, KOWANI dideklarasikan pertama kali pada 22 Desember 1928 melalui Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta. Organisasi ini lahir dari kesadaran kolektif berbagai gerakan perempuan dari beragam latar belakang sosial dan budaya untuk bersatu memperjuangkan hak-hak perempuan serta kemajuan bangsa.
Di tengah situasi yang menuntut kedewasaan berorganisasi ini, Giwo berharap seluruh pihak yang berselisih dapat kembali pada khitah perjuangan awal. Mengedepankan dialog dan rekonsiliasi dinilai menjadi kunci utama agar KOWANI dapat terus berkontribusi secara optimal dalam pembangunan nasional serta penguatan peran perempuan Indonesia di kancah global.










