TVRINews, Bandung
Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 resmi digelar di Sasana Budaya Ganesa, Bandung yang berlangsung mulai dari tanggal 7-9 Agustus 2025. Acara bergengsi ini menampilkan lebih dari 400 inovasi hasil riset unggulan dari berbagai perguruan tinggi, kementerian, hingga industri nasional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyatakan bahwa KSTI menjadi bukti konkret kemampuan bangsa dalam menciptakan solusi berbasis teknologi untuk menjawab tantangan masa depan.
Salah satu inovasi yang paling menarik perhatian adalah Katalis Merah Putih yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB). Katalis ini memungkinkan proses produksi yang lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas produk.
“Selain meningkatkan efisiensi, katalis ini juga mampu mengubah sawit nonpangan menjadi bensin ramah lingkungan,” ujar Geby, Mahasiswa Teknik Kimia ITB.
Dari dunia kesehatan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan alat ukur kesehatan noninvasif, yakni IHEART, ICHOL, dan IGLUCO. Ketiga alat ini dapat mengukur kadar darah, kolesterol, dan gula tanpa perlu jarum suntik.
“Pengguna cukup memasukkan jari ke alat, dan hasil langsung muncul di aplikasi,” jelas Fadil, Mahasiswa Teknik Kimia ITS.
Institut Pertanian Bogor (IPB) memamerkan inovasi benih unggul dan olahan pangan seperti beras analog yang dihasilkan dari jagung. Produk ini memiliki indeks glikemik rendah, sehingga cocok bagi penderita diabetes.
“Selain itu, kami juga mengembangkan varietas unggul seperti padi 9G, 11S, dan 15S,” ungkap I Ketut Mudite Adnyane dari Direktorat Riset dan Inovasi IPB.
ITB kembali menghadirkan inovasi menarik lewat Fruit Storage Chamber, ruang penyimpanan buah berbasis teknologi nano yang mampu memperlambat pematangan buah secara signifikan.
“Dengan alat ini, daya simpan buah bisa dua kali lebih lama dari biasanya,” ujar Fenny Martha Dwivan, dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB.
Dari Universitas Negeri Gorontalo, hadir Ecoblox, panel dinding yang terbuat dari limbah popok bayi dan tongkol jagung. Selain mendukung prinsip zero waste, material ini juga berfungsi sebagai insulasi termal.
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) menampilkan RSV Emas, kendaraan permukaan otomatis untuk memantau kondisi air tambak secara real time.
“Alat ini bisa mendeteksi kedalaman lumpur, pH, suhu, dan salinitas, sehingga membantu meningkatkan kesehatan udang dan produktivitas tambak,” jelas Imam Sutrisno dari PPNS.
Dari ranah pertahanan, ITS menghadirkan Rompi Armits dan Frangible Bullet. Rompi dibuat dari bahan komposit ringan, sementara peluru frangible akan hancur menjadi serbuk saat mengenai benda keras, meminimalisasi risiko luka parah.
“Kedua produk telah lulus uji balistik dan kelayakan di PT Pindad,” terang Yani dari Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi ITS.
Dalam bidang digitalisasi, ITS memamerkan Rissa, sistem AI untuk efisiensi layanan masyarakat. Sedangkan Universitas Indonesia (UI) membawa Game-Based Assessment, metode penilaian berbasis elemen gim yang dapat mengukur kemampuan dan sifat psikologis seseorang secara interaktif.
ITB juga memamerkan Hepamatch, biosensor portabel untuk mendeteksi biomarker Hepatitis B berdasarkan respons arus listrik.
Sementara itu, Universitas Padjadjaran (Unpad) menghadirkan inovasi serat rami sebagai alternatif bahan tekstil yang lebih kuat dibanding kapas, menggunakan teknologi biodegumming berbasis fungi.
KSTI 2025 menjadi cermin betapa kuatnya potensi inovasi anak bangsa. Melalui sinergi antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah, Indonesia diharapkan semakin siap bersaing secara global dan membangun kemandirian teknologi yang berkelanjutan.










