TVRINews, Kediri
Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 tidak hanya menjadi forum evaluasi organisasi menjelang akhir masa khidmah kepengurusan PBNU, tetapi juga wadah merumuskan arah NU menghadapi tantangan masa depan.
Dalam Sidang Pleno II yang berlangsung di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri, Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhadjir menegaskan pentingnya membedakan antara nilai-nilai dasar organisasi yang bersifat tetap dengan aspek yang dapat menyesuaikan perkembangan zaman.
Menurutnya, terdapat sejumlah prinsip yang tidak dapat diubah, yakni Qanun Asasi NU, komitmen terhadap Pancasila, ideologi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, serta posisi NU sebagai organisasi kemasyarakatan keagamaan.
“Sementara itu, hal-hal yang berkaitan dengan mekanisme organisasi dapat disesuaikan selama tidak mengubah tujuan utama NU,” kata dia
Kiai Afif mencontohkan mekanisme pemilihan kepemimpinan yang selama ini kerap menjadi perdebatan menjelang muktamar. Ia menilai sistem pemilihan merupakan sarana untuk mencapai tujuan organisasi sehingga terbuka untuk dibahas dan disepakati melalui musyawarah.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa prinsip musyawarah tidak boleh ditinggalkan dalam proses penentuan pemimpin. Karena itu, berbagai opsi mekanisme pemilihan, termasuk yang berkembang dalam tubuh organisasi, sebaiknya diputuskan melalui forum resmi NU.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Anwar Iskandar menilai Munas dan Konbes memiliki posisi strategis dalam merespons berbagai persoalan yang dihadapi bangsa. Menurutnya, NU perlu terus memperkuat kontribusinya melalui program-program yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Ia menyoroti pentingnya penguatan sektor pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat melalui optimalisasi lembaga-lembaga yang dimiliki NU.

(Foto: Ketua Umum PBNU, KH Anwar Iskandar)
“Selain itu, perkembangan teknologi digital juga disebut sebagai tantangan sekaligus peluang yang harus dimanfaatkan secara maksimal,” ucapnya
Menurut Kiai Anwar, transformasi digital tidak dapat dihindari dan harus menjadi bagian dari strategi dakwah serta penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
“Tanpa kesiapan menghadapi perubahan tersebut, NU berisiko tertinggal dalam menjangkau generasi muda yang tumbuh di era digital,” tegasnya
Selain itu, ia menilai NU memiliki modal besar berupa sumber daya manusia yang tersebar di berbagai bidang profesi. Potensi tersebut perlu dihimpun dan dikoordinasikan agar dapat berkontribusi lebih luas dalam pembangunan serta penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.
Melalui forum Munas dan Konbes 2026, PBNU berharap dapat melahirkan sejumlah rekomendasi strategis yang memperkuat peran NU dalam menjaga nilai keagamaan sekaligus menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan teknologi di masa mendatang.










