TVRINews - Ciangir, Banten
Di balik jeruji besi Kabupaten Tangerang, sebuah program reintegrasi sosial melahirkan wirausahawan lokal mandiri yang sukses menembus pasar digital domestik.
Perjalanan hidup Bakti Kurniawan mencerminkan bagaimana koridor rehabilitasi sistem pemasyarakatan modern mampu mengembalikan fungsi sosial seseorang secara utuh. Setelah menyelesaikan masa pidana di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Ciangir, Banten, ia kini berdiri sebagai pendiri sekaligus pengembang merek alas kaki lokal berlabel ARPRIZE yang telah menembus rantai pasok digital komersial.
Bakti merupakan salah satu subjek pembimbingan dalam skema Pembebasan Bersyarat. Menjalani masa hukuman selama satu tahun sepuluh bulan, ia mendapatkan pembinaan intensif di bawah pengawasan Pembimbing Kemasyarakatan Madya, Nunik Kurniani.
Proses transisi ini dirancang bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban administratif hukum, melainkan sebagai instrumen pembangunan kembali kemandirian ekonomi individu sebelum kembali sepenuhnya ke tengah masyarakat.
Melalui fasilitas pelatihan keterampilan mandiri di Bapas Ciangir, Bakti mengasah keahlian teknis pembuatan sepatu yang kini menjadi landasan bisnisnya.
Mengusung desain kasual modern dengan kombinasi warna monokromatik hitam-putih, produk ini difokuskan pada aspek kenyamanan ergonomis, ketahanan material, kerapian jahitan, serta struktur sol yang kokoh.
Strategi pemasaran yang adaptif membawa produk ini merambah platform Marketplace serta menjangkau konsumen melalui jaringan gerai fisik.
"Saya klien Bapas Ciangir yang dibimbing oleh Ibu Nunik. Saat ini saya memiliki produk sepatu lokal ARPRIZE yang diproduksi sendiri bersama keluarga. Terima kasih kepada Bapas Ciangir dan Ibu Nunik yang telah membimbing saya hingga bisa berkembang seperti sekarang," ujar Bakti Kurniawan dalam rekaman video resmi yang dirilis Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Ciangir, Banten
Keberhasilan komersial tersebut mendapat apresiasi tinggi dari pimpinan institusi pemasyarakatan setempat. Kepala Bapas Ciangir, Anjar Seto, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan manifestasi nyata dari sasaran akhir pembimbingan pemasyarakatan, yakni mencetak individu yang produktif, mandiri, serta mampu beradaptasi secara harmonis di lingkungan sosial.
"Saat ini usaha sepatu ARPRIZE berkembang sangat baik. Penjualannya dilakukan secara online maupun langsung di outlet. Kami berharap usaha ini terus berkembang dan semakin sukses," tutur Anjar Seto.
Lebih lanjut, Anjar menekankan pentingnya efek multiplier dari keberhasilan wirausaha ini. Pihaknya mendorong agar ekspansi bisnis yang digawangi oleh Bakti dapat membuka ruang kesempatan kerja bagi sesama klien pemasyarakatan yang masih dalam proses pencarian mata pencaharian.
Dengan demikian, nilai tambah dari pembinaan kemandirian tidak berhenti pada individu yang bersangkutan, melainkan terdistribusi luas ke dalam ekosistem sosial yang lebih besar. Saat ini, Bapas Ciangir sendiri secara aktif mengawasi dan membimbing sebanyak 1.287 klien pemasyarakatan.
Model pembinaan ini sekaligus memperkuat arah kebijakan strategis yang dicanangkan oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, mengenai konsep Pemasyarakatan Berdampak.
Melalui kombinasi penguatan keterampilan, pemberdayaan ekonomi kreatif, serta pengawalan reintegrasi sosial, institusi negara berupaya memastikan bahwa masa lalu seseorang tidak menjadi pembatas bagi kontribusi mereka terhadap kemajuan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat.









