TVRINews, Jakarta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyalurkan ribuan liter air bersih ke sejumlah wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Barat yang mulai terdampak kekeringan akibat peralihan menuju musim kemarau.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan distribusi bantuan air bersih difokuskan ke sejumlah daerah yang mengalami penurunan ketersediaan air, yakni Kabupaten Cilacap di Jawa Tengah serta Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi di Jawa Barat.
Menurut Abdul, berkurangnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan debit sumber air alami menurun sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara optimal.
"Musim kemarau yang mulai terjadi di wilayah tersebut menyebabkan debit air dari sumber-sumber alami berkurang dan tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat sehari-hari,"ujar Abdul dalam keterangan yang dikutip, Kamis, 11 Juni 2026.
Salah satu wilayah yang mendapat pasokan air bersih dalam jumlah besar adalah Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi. Kawasan tersebut dilaporkan tidak mengalami hujan selama sekitar satu bulan terakhir sehingga memicu krisis air bersih bagi warga.
Untuk membantu masyarakat terdampak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mendistribusikan sedikitnya 10.000 liter air bersih kepada sekitar 30 kepala keluarga yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Di Kabupaten Bogor, BPBD setempat juga menyalurkan bantuan air bersih setelah debit sejumlah mata air yang selama ini menjadi sumber kebutuhan warga mengalami penurunan. Sebanyak 5.000 liter air bersih telah didistribusikan secara bertahap kepada 127 kepala keluarga di Desa Gunung Sari, Kecamatan Citeureup.
Sementara itu, di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, BPBD bersama aparat kewilayahan menyalurkan 4.000 liter air bersih kepada 40 kepala keluarga di Desa Kedungbenda, Kecamatan Nusawungu, yang mulai terdampak kekeringan.
Merespons kondisi tersebut, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperkuat langkah mitigasi guna mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas. Upaya yang dapat dilakukan antara lain membangun sumur resapan, menyiapkan tandon air sebagai cadangan, serta memanfaatkan teknologi panen air hujan dengan menampung air dalam wadah penyimpanan yang memadai.
"Penghematan dan penggunaan air secara bijak sesuai kebutuhan,"ucapnya.
BNPB juga mengingatkan bahwa potensi kekeringan sejalan dengan data terbaru Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang menunjukkan meluasnya wilayah musim kemarau di Indonesia. Hingga akhir Mei 2026, BMKG mencatat sekitar 200 zona musim atau 11,83 persen wilayah daratan telah memasuki fase kering.
Pada Juni 2026, wilayah yang memasuki musim kemarau diperkirakan bertambah menjadi 198 zona musim baru atau setara 31,6 persen luas daratan Indonesia. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi bagian selatan DKI Jakarta, sebagian Pulau Jawa, hingga sebagian besar Kalimantan.
Sementara pada Juli mendatang, musim kemarau diproyeksikan meluas ke sejumlah wilayah lain, termasuk bagian barat Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, serta Maluku Utara.
Meski demikian, BMKG juga mendeteksi adanya beberapa wilayah yang mengalami kondisi lebih basah dari normal akibat pengaruh topografi lokal. Wilayah tersebut antara lain berada di Bengkulu, sebagian Gorontalo, dan beberapa kawasan di Nusa Tenggara Timur (NTT).










