TVRINews – Jakarta
Satgas Kogabwilhan III lumpuhkan belasan pimpinan kelompok bersenjata dan sita ratusan amunisi dalam operasi triwulan pertama 2026.
Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III mencatatkan capaian signifikan dalam operasi penegakan kedaulatan di wilayah timur Indonesia sepanjang triwulan pertama tahun 2026.
Dalam serangkaian operasi taktis yang digelar sejak Januari hingga Mei, aparat keamanan berhasil mengamankan puluhan pucuk senjata api dan melumpuhkan sejumlah petinggi kelompok bersenjata TPNPB-OPM.
Hal ini diambil sebagai respons atas meningkatnya eskalasi kekerasan yang mengancam keselamatan warga sipil.
Meski demikian, otoritas militer menegaskan bahwa seluruh tindakan di lapangan tetap berpijak pada prinsip legalitas dan kemanusiaan.
Penegakan Hukum Berbasis Supremasi Keamanan
Dalam keterangan resminya, pihak Kogabwilhan III menekankan bahwa operasi yang dijalankan oleh Satgas TNI dan Koops Habema dilakukan dengan disiplin tinggi berdasarkan Rules of Engagement (ROE), untuk melindungi jiwa raga masyarakat dari teror yang dilancarkan oleh kelompok separatis.
"Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Kami bekerja secara cepat, taktis, dan profesional untuk memastikan setiap tindakan prajurit selaras dengan hukum, hak asasi manusia, serta norma etika," ujar juru bicara militer dalam pemaparan barang bukti di Jayapura, Jumat 8 Mei 2026.
Di hadapan awak media, TNI memperlihatkan puluhan pucuk senjata api berbagai jenis, ratusan butir amunisi, hingga senjata tajam yang disita langsung dari tangan anggota kelompok TPNPB-OPM.
Selain penyitaan logistik perang, operasi ini juga berhasil mereduksi kekuatan organisasi lawan dengan melumpuhkan 13 tokoh kunci dan anggota aktif di berbagai wilayah, mulai dari Soraya, Ndugama, hingga Yahukimo.
Salah satu tindakan tegas terukur dilakukan terhadap Jeki Murib, Komandan Wilayah Kodap XVII/Ilaga, yang dilaporkan melakukan perlawanan dan menyerang personel TNI secara langsung di Desa Pinapa, Distrik Omukia, Kabupaten Puncak.
Data Operasional dan Penyitaan Logistik
Berdasarkan data yang dihimpun selama empat bulan terakhir, berikut adalah rincian capaian operasi di wilayah Papua:
• Januari 2026: Melalui Operasi Kinetik dan Paurusha, petugas mengamankan satu pucuk senjata api organik, 564 butir amunisi, serta puluhan alat komunikasi dan atribut organisasi.
• Februari 2026: TNI menyita tiga pucuk senjata api organik, sejumlah senjata rakitan, busur panah, serta uang tunai senilai Rp10,6 juta hasil dari operasi di Tembagapura dan wilayah lainnya.
• Maret 2026: Intensitas operasi meningkat dengan hasil penyitaan satu pistol organik, 15 senapan angin, serta lebih dari 300 butir amunisi dalam operasi pembersihan di Kampung Bulagi dan Eromaga.
• April - Mei 2026: Petugas mengamankan berbagai jenis senjata mulai dari jenis Mouser hingga senjata campuran kaliber 5,56 mm, serta uang tunai sebesar Rp24,3 juta yang ditemukan di markas Kodap III Puncak Jaya.
Komitmen Stabilitas Wilayah
Keberhasilan rangkaian operasi ini diklaim sebagai buah dari sinergi yang solid antara satuan TNI, pemerintah daerah, dan dukungan informasi akurat dari masyarakat setempat.
Pihak militer menegaskan bahwa kehadiran negara di Papua bertujuan untuk menjamin rasa aman agar roda ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat dapat berjalan tanpa rasa takut.
"Kami berkomitmen menjaga situasi tetap kondusif dan memastikan perlindungan penuh terhadap fasilitas publik. Kami mengimbau semua pihak untuk tidak terprovokasi oleh disinformasi dan bersama-sama menjaga persatuan demi mewujudkan Papua yang damai," tutup pernyataan resmi tersebut.










