TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menjadikan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah sebagai pintu masuk, untuk mendeteksi sekaligus menangani berbagai masalah kesehatan pada siswa.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono mengatakan, pemeriksaan kesehatan siswa tidak boleh berhenti pada tahap deteksi. Setiap temuan dari CKG harus ditindaklanjuti melalui kolaborasi lintas sektor.
"Edukasi memang penting, tetapi aspek kesehatan merupakan bekal utama bagi mereka untuk bertumbuh dengan baik dan menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang unggul. Kita tidak hanya sekadar memeriksa, tetapi temuan ini harus ditindaklanjuti bersama lintas sektor," kata Dante dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Berdasarkan data Kemenkes hingga Agustus 2026, CKG telah melayani 15,2 juta siswa dari total target 50 juta anak sekolah di seluruh Indonesia. Dari pemeriksaan tersebut, ditemukan sejumlah persoalan kesehatan yang mendominasi anak usia sekolah.
Karies gigi atau gigi berlubang menjadi temuan tertinggi secara nasional dengan prevalensi 40,9 persen. Selain karies gigi, pemeriksaan juga menemukan masalah anemia pada remaja putri, peningkatan tekanan darah, serta serumen impaksi atau penumpukan kotoran telinga.
Di Kota Bogor, angka karies gigi bahkan mencapai 48,79 persen. Pemerintah Kota Bogor kemudian mengembangkan inovasi CKG Smart untuk memperluas akses sekaligus memberikan penanganan awal terhadap temuan kesehatan siswa.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena mengatakan, cakupan CKG di wilayahnya telah mencapai 49,62 persen.
"Di Bogor angka karies mencapai 48,79 persen. Untuk merespons temuan ini dan tantangan akses, kami menginisiasi inovasi CKG Smart yang mobile dan responsif untuk memberikan terapi awal terintegrasi langsung ke sekolah-sekolah," ujar Erna.
Selain persoalan kesehatan gigi, Kemenkes juga menyoroti masalah gizi pada anak sekolah. Anak-anak Indonesia masih menghadapi beban ganda masalah gizi, yakni gizi kurang di satu sisi dan gizi lebih atau obesitas di sisi lainnya. Secara nasional, kasus obesitas pada anak sekolah mencapai 7,2 persen.
Kemenkes kemudian mengintegrasikan CKG dengan target intervensi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Intervensi tersebut mencakup kesehatan sebelum hamil, kesehatan selama kehamilan hingga bayi lahir, kesehatan bayi di bawah dua tahun, serta penguatan fasilitas layanan kesehatan.
Dante menilai pemeriksaan kesehatan di jenjang SMP dan SMA menjadi penting karena dapat menjadi momentum untuk melakukan intervensi kesehatan remaja sebelum mereka memasuki fase kehamilan dan menjadi orang tua.
Di sisi lain, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar hasil pemeriksaan CKG dapat ditindaklanjuti di lingkungan sekolah.
"Kami mengapresiasi inisiatif Pak Wamenkes yang mengundang kami bersama Wamen PPPA. Ini menunjukkan sinergi karena CKG Sekolah dilaksanakan di ruang pendidikan dan hasilnya perlu ditindaklanjuti bersama," tutur Fajar.
Fajar menyebut CKG merupakan Program Hasil Terbaik Cepat Presiden Prabowo Subianto sekaligus implementasi Asta Cita keempat yang menempatkan pendidikan dan kesehatan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia unggul.
Kemenkes berharap hasil pemeriksaan CKG dapat meningkatkan kesadaran orang tua dan tenaga pendidik mengenai berbagai ancaman kesehatan pada anak sekolah.
Selain mendorong pola hidup sehat di lingkungan keluarga, hasil CKG juga diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengoptimalkan kembali fungsi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dalam menjaga kesehatan peserta didik.










