TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono mendorong keterlibatan aktif ayah dalam menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak melalui Fatherhood Movement atau Gerakan Keayahan.
Dante menilai pemenuhan kesehatan dan gizi anak tidak bisa hanya dibebankan kepada ibu. Peran ayah dibutuhkan sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia dua tahun, yang merupakan periode penting dalam perkembangan anak.
"Perkembangan otak justru terjadi paling besar itu di usia 0 sampai 2 tahun. Oleh karena itu, investasi early years ini sangat penting," ujar Dante dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Menurut Dante, pemerintah menginisiasi Fatherhood Movement agar ayah tidak hanya hadir ketika anak sakit atau saat proses persalinan, tetapi terlibat secara aktif dalam pemenuhan kesehatan, gizi, serta tumbuh kembang anak.
Kemudian, Dante menyebut gerakan tersebut sebagai bentuk pengembangan dari konsep Suami Siaga yang selama ini dikenal dalam konteks pendampingan ibu saat persalinan.
"Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat," ucapnya.
Program 1.000 HPK sendiri mencakup periode sejak 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari setelah kelahiran atau ketika anak berusia di bawah dua tahun. Fase tersebut menjadi periode penting karena perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat.
Dalam program tersebut, pemerintah menetapkan empat intervensi utama, mulai dari memastikan kesehatan remaja putri dan kesiapan calon pengantin, pelayanan kesehatan selama kehamilan dan persalinan, pemenuhan kebutuhan gizi serta imunisasi baduta, hingga penguatan layanan kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit.
Lebih lanjut, Dante menekankan keberhasilan intervensi tersebut membutuhkan dukungan keluarga. Karena itu, keterlibatan ayah diharapkan menjadi bagian dari upaya mencegah stunting serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi.










