TVRINews, Banyuwangi
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengajak pelaku UMKM di Banyuwangi untuk memanfaatkan kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor).
Budi mengatakan, UMKM BISA Ekspor dan program kemitraan UMKM dengan jaringan ritel modern relevan bagi para pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan pasar.
"Kami mengajak UMKM Banyuwangi untuk memanfaatkan program UMKM BISA Ekspor yang dapat menghubungkan UMKM dengan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri. Kemendag memiliki 46 perwakilan perdagangan di 33 negara yang siap membantu UMKM menemukan buyer di negara tujuan ekspor," kata Budi dikutip dari siaran persnya, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Sementara untuk pasar domestik, Kemendag menjalankan program kemitraan dengan minimarket, ritel modern, dan toko serba ada (department store). Melalui program tersebut, Kemendag dapat memfasilitasi penjajakan bisnis (business matching) dan kurasi untuk mempertemukan produk UMKM dengan jaringan ritel.
UMKM BISA Ekspor dan program kemitraan dengan ritel modern merupakan bagian dari aktivitas pengembangan ekspor Kementerian Perdagangan di bawah payung program utama “Dari Lokal untuk Global”. Program ini mencakup UMKM BISA Ekspor, Desa BISA Ekspor, Campuspreneur, dan program kemitraan.
Selain mempertemukan UMKM dengan calon pembeli, Kemendag memperkuat promosi produk berorientasi ekspor melalui Program Product Placement Pilihan Busan. Produk UMKM dikurasi setiap tiga bulan untuk menjaring produk yang memenuhi standar ekspor. Produk terpilih kemudian dipromosikan langsung oleh Mendag Busan kepada tamu-tamu dari dalam dan luar negeri di ruang tamunya. Produk-produk terpilih juga berkesempatan diikutsertakan dalam berbagai pameran.
Selain itu, UMKM dapat memanfaatkan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14—18 Oktober 2026 sebagai salah satu sarana untuk memperluas akses pasar global. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, TEI menghadirkan 8.045 buyer asing dengan nilai transaksi mencapai USD 22,8 miliar. Khusus untuk UMKM, nilai transaksi tercatat sebesar USD 474,7 juta.
Kemendag juga menyediakan Klinik Desain untuk membantu UMKM meningkatkan kualitas desain dan kemasan produk. Konsultasi dapat dilakukan secara daring tanpa biaya. Menurut Budi, perbaikan desain dan kemasan dapat meningkatkan kesiapan produk UMKM untuk memasuki pasar ekspor.
“Kalau desain kemasannya belum bagus, bisa kami ajari secara daring tanpa biaya. Banyak produk yang berhasil didesain ulang lalu mencetak ekspor. Kami menyediakan konsultasi desain dengan desainer untuk membuat desain produk menjadi lebih baik,” pungkas Budi.










