TVRINews, Jombang
Suasana produktif terlihat di Balai Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Sabtu, 11 Juli 2026. Sejumlah penyandang disabilitas tampak mengolah berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari telur asin, kerajinan tas, hingga sapu berbahan serabut kelapa.
Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pemberdayaan yang disertai pendampingan mampu membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk hidup lebih mandiri. Semangat para penerima manfaat itu disaksikan langsung oleh Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial RI, Fatma Saifullah Yusuf, dalam kegiatan bakti sosial DWP Kemensos bersama Sentra Terpadu Prof. Soeharso Surakarta.
Pada kesempatan itu, Fatma berkeliling meninjau proses produksi, berdialog dengan para penerima manfaat, serta memberikan motivasi kepada keluarga pendamping.
Dalam kunjungannya, Fatma juga mendatangi Pos Kesehatan Jiwa (Poskeswa) Mergo Waras binaan Puskesmas Dukuhklopo. Bersama Poskeswa Mantap Jiwa di Kecamatan Sumobito, fasilitas tersebut menjadi tempat rehabilitasi bagi penyandang disabilitas psikososial melalui layanan rehabilitasi sosial, terapi, pelatihan keterampilan, hingga pendampingan usaha.
Di Poskeswa, para penyandang disabilitas psikososial mendapat sapaan khusus sebagai "para tersayang", akronim dari Terabaikan Kasih Sayang di Saat Jiwanya Goyang. Menurut Fatma, penyebutan tersebut mencerminkan pentingnya kepedulian dan penerimaan terhadap mereka yang tengah menghadapi tantangan kesehatan jiwa.
“Bagi saya, sebutan itu mengingatkan kita semua bahwa setiap orang membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan penerimaan, terutama ketika sedang menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya,” kata Fatma dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu, 12 Juli 2026.
Ia menegaskan bahwa makna dari sebutan tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menurutnya, tidak boleh ada lagi masyarakat yang terpinggirkan karena kondisi disabilitas atau gangguan kesehatan jiwa.
“Mereka adalah bagian utuh dari masyarakat yang memiliki hak setara untuk bekerja, belajar, berkarya, dan hidup bermartabat,” tambahnya.
Fatma juga mengapresiasi pendekatan rehabilitasi yang diterapkan di Poskeswa. Menurutnya, proses pemulihan tidak hanya berfokus pada layanan medis, tetapi juga mengembangkan kemampuan ekonomi melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) yang mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan dasar, terapi, bantuan kewirausahaan, dan pemberdayaan ekonomi.
Dalam kegiatan tersebut, DWP Kemensos bersama Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta menyalurkan bantuan ATENSI senilai Rp82.496.521 kepada 22 penerima manfaat, terdiri atas 21 penyandang disabilitas dan satu kelompok rentan.
Bantuan yang diberikan meliputi alat bantu aksesibilitas berupa dua kursi roda standar, satu kursi roda adaptif untuk penyandang cerebral palsy, serta empat sepeda adaptif.
Selain itu, sebanyak 15 penerima manfaat memperoleh bantuan kewirausahaan yang disesuaikan dengan jenis usaha masing-masing, seperti usaha tambal ban, warung makan dan kopi, produksi telur asin, kerajinan tas macrame, mebel dan jaranan, hingga usaha penjualan pakaian.
Fatma berharap bantuan tersebut menjadi awal bagi para penerima manfaat untuk terus mengembangkan usaha dan meningkatkan taraf hidup.
“Jangan pandang bantuan ini sebagai tujuan akhir. Jadikan ini pemantik semangat untuk terus melangkah menuju kemandirian dan peningkatan kualitas hidup,” ucapnya.
Selain penyaluran bantuan dan peninjauan ruang produksi, kegiatan bakti sosial juga menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang diikuti sekitar 100 peserta, termasuk kader Posyandu.
Kegiatan tersebut melibatkan Penasihat dan Ketua DWP Kabupaten Jombang, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, jajaran Pemerintah Kabupaten Jombang, serta perwakilan Kementerian Sosial. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat diharapkan dapat terus memperluas akses pemberdayaan bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan agar semakin mandiri dan sejahtera.










