TVRINews, Jakarta
Pemerintah Indonesia dan Jepang memperkuat kemitraan strategis dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan talenta global melalui serangkaian pertemuan bilateral yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar di Tokyo, Jepang.
Dalam pertemuan dengan Minister in Charge of a Society of Well-Ordered and Harmonious Coexistence with Foreign Nationals Jepang, Kimi Onoda, pada 30 Juli 2026, kedua negara membahas langkah-langkah memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia–Jepang, khususnya di bidang pengembangan tenaga kerja yang berdaya saing global.
Pada kesempatan tersebut, Muhaimin menegaskan kesiapan Indonesia menjadi mitra strategis Jepang melalui penyediaan tenaga kerja profesional yang sesuai dengan kebutuhan industri. Menurutnya, kerja sama akan diperkuat melalui penyelarasan pendidikan vokasi, sertifikasi kompetensi, serta pengembangan Mutual Recognition Agreement (MRA) di sektor-sektor prioritas.

“Indonesia juga mendorong penguatan kerja sama melalui penyelarasan pendidikan vokasi, sertifikasi kompetensi, serta pengembangan Mutual Recognition Agreement (MRA) pada sektor-sektor prioritas,”kata Menko PM Muhaimin Iskandar dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 4 Agustus 2026.
Ia menambahkan, pengembangan tenaga kerja terampil telah menjadi salah satu program prioritas nasional yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah pun menyiapkan calon pekerja melalui pelatihan keterampilan, pembekalan budaya kerja, serta pengenalan budaya Jepang agar mampu beradaptasi dengan baik.
“Melalui prinsip safe and orderly migration, Pemerintah Indonesia mempersiapkan calon pekerja dengan pembekalan keterampilan, budaya kerja, dan integrasi budaya di Jepang. Pemerintah juga memberikan dukungan pelatihan dan peningkatan kompetensi khususnya bagi lulusan SMA/SMK agar siap berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan dunia kerja di Jepang,” tambahnya.
Kedua negara juga sepakat bahwa penempatan tenaga kerja Indonesia di Jepang tidak hanya memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga menjadi sarana peningkatan kapasitas SDM. Pengalaman bekerja di Jepang diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pekerja Indonesia sehingga mampu berkontribusi bagi pembangunan nasional setelah kembali ke Tanah Air.

Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, mengatakan pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan kedua negara dalam memperkuat kerja sama pengembangan SDM sebagai salah satu pilar Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia–Jepang.
”Sinergi yang semakin erat diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi kedua negara sekaligus memperkokoh hubungan persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Jepang,”ungkap Nurmala.
Sebelum pertemuan dengan Kimi Onoda, Muhaimin juga bertemu Menteri Kehakiman Jepang, Hiraguchi Hiroshi, pada 28 Juli 2026. Dalam pertemuan itu, kedua negara menyepakati penguatan kerja sama ketenagakerjaan melalui skema migrasi kerja yang legal, aman, dan memberikan perlindungan bagi pekerja.
Menko PM menjelaskan, kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada penempatan tenaga kerja, tetapi juga membangun ekosistem pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kompetensi serta perlindungan pekerja. Ia turut memperkenalkan program SMK Go Global sebagai upaya menyiapkan lulusan vokasi Indonesia agar memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri internasional, termasuk di Jepang.
Sementara itu, Menteri Kehakiman Jepang Hiraguchi Hiroshi mengapresiasi hubungan bilateral Indonesia dan Jepang yang telah terjalin sejak 1958. Menurutnya, kerja sama kedua negara terus berkembang, termasuk di bidang ketenagakerjaan dan mobilitas sumber daya manusia.
Data hingga akhir 2025 menunjukkan jumlah warga negara Indonesia yang tinggal di Jepang mencapai 266.069 orang, meningkat 33,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut mencerminkan semakin eratnya hubungan kedua negara, khususnya dalam bidang ketenagakerjaan dan pengembangan SDM.









