TVRINews, Jakarta
Gandeng AS dan Cina, Pemerintah Pacu Riset dan Hilirisasi Komoditas Laut Strategis.
Rumput laut bukan lagi sekadar bahan makanan atau kosmetik. Pemerintah Indonesia kini melihat komoditas laut tropis ini sebagai kunci dalam transisi energi bersih. Lewat dorongan hilirisasi, rumput laut dibidik untuk dikembangkan menjadi biofuel generasi ketiga, dengan potensi ekonomi lebih dari Rp 195 triliun.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, mengungkapkan bahwa rumput laut masuk dalam 28 komoditas strategis hilirisasi nasional. Namun, minimnya riset membuat nilai tambahnya belum optimal.
"Sebagai penghasil rumput laut tropis terbesar di dunia, Indonesia harus mengambil posisi strategis dalam pasar biofuel global," ujar Stella dalam Simposium Nasional "Sumitronomics dan Arah Ekonomi Indonesia" yang digelar di Jakarta, Selasa (3/6).
Untuk memperkuat fondasi riset, Kementerian kini menjalin kemitraan internasional dengan Universitas Mataram, University of California Berkeley, Beijing Genomics Institute, dan APINDO guna membentuk pusat riset rumput laut nasional.
Asia saat ini menyumbang 97% produksi rumput laut dunia, dan Indonesia menjadi penyuplai utama untuk kategori tropis, melampaui negara-negara seperti Filipina, Malaysia, Zanzibar, dan Cina.
Sebelumnya, Luhut Binsar Pandjaitan, saat masih menjabat sebagai Menko Kemaritiman dan Investasi, pernah mencetuskan ide pembentukan satgas hilirisasi rumput laut. Ia memproyeksikan nilai tambah komoditas ini bisa menembus US$ 19 miliar atau Rp 310 triliun pada tahun 2030.
Luhut menilai, rumput laut memiliki dampak besar terhadap mitigasi perubahan iklim dan berperan penting dalam mewujudkan ekonomi biru. “UN saja sudah punya program khusus untuk seaweed. Maka saya usul bikin task force agar kita bisa ambil bagian lebih besar,” ujar Luhut lewat akun Instagram-nya pada Oktober 2024 lalu.
Dengan kerja sama lintas negara dan penguatan riset domestik, Indonesia membidik posisi pemimpin global dalam industri biofuel berbasis laut. Hilirisasi rumput laut tak hanya menjanjikan nilai ekonomi tinggi, tapi juga kontribusi nyata terhadap energi bersih dan perubahan iklim.










