TVRINews, Batam
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat upaya pemulihan 131 sekolah menengah kejuruan (SMK) yang terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar kegiatan benchmarking ke industri dan SMK di Kota Batam, Kepulauan Riau, pada 23–26 Juli 2026.
Kegiatan yang diikuti 131 kepala sekolah dan wakil kepala sekolah tersebut merupakan bagian dari Program Revitalisasi Sarana dan Peralatan Pembelajaran SMK Berbasis Industri. Program ini bertujuan mempercepat pemulihan fasilitas pembelajaran sekaligus menyelaraskan sarana praktik dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menegaskan pentingnya pembaruan sarana pembelajaran agar lulusan SMK mampu mengikuti perkembangan teknologi di dunia kerja.

"Jangan sampai siswa kita belajar menggunakan teknologi masa lalu, lalu diminta bekerja di industri masa depan. Kesenjangan ini yang harus kita pangkas melalui revitalisasi, baik sarana dan prasarana maupun sistem pembelajaran yang semakin tepat sasaran,"ujar Tatang dalam keterangan tertulis, dikutip, Senin, 27 Juli 2026.
Ia berharap kunjungan ke berbagai mitra industri dapat menjadi acuan bagi sekolah untuk menyesuaikan ruang praktik dengan standar industri terkini. Selain itu, Tatang mengingatkan pentingnya tata kelola sekolah yang profesional dan berintegritas guna menjaga kepercayaan dunia industri.
"Mari kita buktikan bahwa SMK Indonesia tidak sekadar mengikuti perkembangan industri, tetapi mampu tumbuh bersama industri dan melahirkan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap memenangkan masa depan,"jelasnya.
Direktur SMK Kemendikdasmen, Arie Wibowo Khurniawan, mengatakan bantuan revitalisasi telah disalurkan kepada 131 SMK terdampak bencana di tiga provinsi tersebut. Selain rehabilitasi bangunan, pemerintah juga menyiapkan dukungan pengadaan sarana dan peralatan praktik yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
Menurut Arie, sekolah harus merencanakan pengadaan alat praktik secara matang agar selaras dengan kompetensi keahlian, kebutuhan industri, serta perkembangan teknologi yang digunakan di dunia kerja.
"Tugas dari teman-teman yang hadir pada hari ini adalah melihat langsung bagaimana alat praktik digunakan di industri. Harapannya, lulusan SMK yang dihasilkan sekolah-sekolah di daerah terdampak bencana tersebut sesuai dengan kebutuhan industri,"ungkap Arie Wibowo.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Habibul Fuadi, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai benchmarking menjadi bukti sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mempercepat pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana.
"Ini menunjukkan bahwa kita semua, jajaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah beserta Dinas Pendidikan, khususnya di provinsi-provinsi yang terdampak, senantiasa bahu-membahu menyelesaikan persoalan di daerah yang terkena bencana,"kata Habibul Fuadi.
Sebagai bentuk penguatan kerja sama, Kemendikdasmen, pemerintah daerah, dan mitra industri juga menandatangani komitmen bersama untuk meningkatkan keselarasan penyelenggaraan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Batam dipilih sebagai lokasi benchmarking karena memiliki kawasan industri yang berkembang pesat, mulai dari sektor manufaktur, elektronik, maritim, hingga ekonomi digital.









