TVRINews, Bandung Barat
Program Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda (KELANA) Episode 4 yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) resmi berakhir di kawasan hulu Sungai Citarum, Bening Saguling Foundation, Bandung Barat, Kamis, 3 September 2026.
Pada hari terakhir kegiatan, 11 pelajar SMA terpilih dari berbagai daerah di Indonesia bersama Puteri Indonesia Lingkungan 2026, Victoria Titisari Kosasieputri, diajak melihat langsung upaya masyarakat dalam menangani persoalan lingkungan melalui kolaborasi dengan dunia usaha.
Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian peserta adalah program pemberdayaan masyarakat binaan PT PLN Indonesia Power UBP Saguling bersama Bening Saguling Foundation.
Para peserta diperkenalkan dengan berbagai inovasi pengolahan gulma air dan limbah waduk menjadi produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi.
Salah satunya adalah pemanfaatan eceng gondok menjadi pelet biomassa sebagai bahan bakar alternatif dan media tanam jamur konsumsi. Eceng gondok juga diolah menjadi berbagai kerajinan, seperti kotak tisu, gelang, hingga bunga dari limbah plastik waduk.
Peserta asal SMAN 5 Pontianak, Aprianus Ganda, mengaku mendapat pengalaman baru dari kegiatan tersebut.
"Aku sangat tertarik karena di sini saya melihat kalau ternyata enceng gondok yang ada di daerah saya itu bisa dimanfaatkan sebagai pelet. Tapi bukan pelet untuk makanan ikan, tetapi pelet untuk pengganti bahan bakar atau biomassa melalui program pemberdayaan masyarakat oleh PLN IP UBP Saguling. Kemudian di Bening Saguling Foundation saya mendapat pengetahuan yang berkesan lainnya, ternyata enceng gondok itu tidak hanya dimanfaatkan sebagai pelet untuk bahan bakar, tapi juga ternyata bisa dijadikan karya, seperti kotak tisu, gelang, hingga bunga dari plastik-plastik waduk," ujar Aprianus dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat, 4 September 2026.
Aprianus juga mengajak generasi muda mulai menjaga lingkungan melalui langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Ayo jaga bumi kita, ayo jaga sekitar, coba dari hal kecil, buang sampah pada tempatnya misalnya. Karena masa depan bumi itu adalah cerita yang kita tulis sendiri hari ini,” jelasnya.
Belajar dari Perjuangan Pelestarian Citarum
Selain melihat langsung proses pengolahan limbah, para peserta juga mendapat pengalaman dari Pendiri Bening Saguling Foundation, Indra Darmawan.
Indra yang merupakan penerima Kalpataru Lestari 2026, setelah sebelumnya meraih Kalpataru Adya 2020, membagikan pengalaman panjangnya dalam menjaga kelestarian Sungai Citarum melalui pemberdayaan masyarakat.
"Alhamdulillah dengan aktifnya kami untuk pelestarian Sungai Citarum, kami berhasil mendapatkan Kalpataru Adya tahun 2020 dan tahun 2026 kemarin belum lama kami mendapat Kalpataru Lestari. Mulai dari pengelolaan sampah organik menjadi maggot dan pakan untuk 6.000 ekor ayam petelur, hingga pengolahan sampah anorganik menjadi papan plastik (plastic board) dan program pelestarian lingkungan lainnya,"ungkap Indra.
Salah satu hasil inovasi Bening Saguling Foundation adalah plastic board yang dimanfaatkan sebagai material bangunan Omah Plastik.
Bangunan tersebut digunakan sebagai fasilitas pendidikan anak usia dini. Uniknya, para siswa di Omah Plastik membayar iuran bulanan menggunakan sampah plastik anorganik, bukan uang.
Kolaborasi Lingkungan dan Dunia Usaha
Sementara itu, Assistant Manager Humas PLN Indonesia Power UBP Saguling, Taufan Kurniawan, mengatakan kemitraan dengan Bening Saguling Foundation yang telah berjalan sejak 2010 terus berkembang.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sampah dan lingkungan di kawasan Citarum, tetapi juga mencakup edukasi lingkungan melalui Festival Citarum yang melibatkan negara-negara ASEAN.
Taufan menilai pengalaman peserta KELANA di lapangan dapat menjadi bekal bagi mereka dalam memahami pentingnya mengintegrasikan aspek lingkungan dengan proses bisnis.
"Rekan Kelana diajari cara berpandangan, proses bisnis dari berbagai perusahaan, kemudian sudut pandang proses bisnis terkait aspek lingkungan, dan semuanya berjalan bersama. Sehingga anak-anak pasti nanti ke depan ketika menjadi orang-orang penting ataupun yang memegang negara ini, pasti dia tidak akan merusak lingkungan. Harapannya rekan-rekan Kelana ini dapat menularkan kepada siswa-siswi yang lain, sehingga Indonesia ke depan, kalau kami di PLN ini, target 2060 net zero emission dapat terealisasi dengan baik,"kata Taufan.
Rangkaian KELANA Episode 4 di Bening Saguling Foundation menjadi bagian dari upaya KLH/BPLH mengenalkan persoalan lingkungan secara langsung kepada generasi muda.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan memahami bahwa pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan beriringan melalui inovasi, kolaborasi, serta pemberdayaan masyarakat.










