TVRINews, Kupang
Semangat untuk meraih masa depan yang lebih baik ditunjukkan Sifra Takain, siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski tumbuh dalam keluarga dengan kedua orang tua penyandang tunanetra, Sifra tetap optimistis mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter.
Sifra selama ini tinggal bersama ayah dan ibunya, Maskrim Takain (39) dan Tapui Aksamina Lobang (40), di Desa Oeltua, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang. Kedua orang tuanya mengalami kebutaan sejak lama, sehingga menghadapi berbagai keterbatasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Menurut Sifra, kondisi tersebut membuat keluarganya kesulitan memperoleh penghasilan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, orang tuanya membantu membersihkan rumah kakek dan neneknya serta menjaga kios sembako milik keluarga.
Selain itu, kedua orang tuanya juga membuka jasa pijat refleksi di rumah. Namun, penghasilan yang diperoleh tidak menentu karena pelanggan membayar secara sukarela.
"Kadang ada yang bayar Rp50 ribu, kadang juga ada yang tidak bayar," ujar Sifra dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari laman Kemensos, Sabtu, 13 Juni 2026.
Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Sifra menyimpan cita-cita besar. Ia ingin menjadi dokter agar dapat membantu orang-orang yang membutuhkan perawatan kesehatan.
"Mau jadi dokter supaya bisa merawat orang yang sakit," ucapnya.
Harapan Sifra untuk meraih masa depan yang lebih baik kini semakin terbuka setelah menjadi salah satu siswi di SRMP 19 Kupang. Melalui program Sekolah Rakyat, ia dapat mengenyam pendidikan dengan tenang tanpa harus memikirkan biaya sekolah.
Di sekolah berkonsep asrama tersebut, seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara, mulai dari seragam, sepatu, tas, perlengkapan belajar hingga kebutuhan makan sehari-hari.
Selain itu, Sekolah Rakyat juga menyediakan berbagai fasilitas pendukung seperti perpustakaan, laboratorium sains, laboratorium komputer, lapangan olahraga, dan tempat ibadah.
Sifra mengaku senang karena dapat mempelajari banyak hal baru di sekolah, termasuk mata pelajaran coding. Ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti taekwondo, Pramuka, futsal, jurnalistik, dan paduan suara.
Bagi Sifra, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar, tetapi juga menjadi jalan untuk mewujudkan impian yang selama ini ia gantungkan di tengah keterbatasan keluarga.
"Terima kasih Bapak Presiden karena sudah membuka Sekolah Rakyat bagi kami keluarga yang tidak mampu," ungkapnya.










