TVRINews, Jakarta
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memastikan upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat meski jumlah titik panas atau hotspot secara nasional mengalami penurunan. Pemerintah tetap mengintensifkan pemadaman darat dan udara, penyediaan sumber air, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah terdampak kebakaran dan kabut asap.
Berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Karhutla atau SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Sabtu, 17 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, terdeteksi 270 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence. Angka tersebut berkurang 84 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 354 titik.
Namun, penurunan secara nasional belum merata di seluruh wilayah. Kalimantan Tengah justru mencatat peningkatan signifikan, dari 19 menjadi 92 titik panas. Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat 22 titik, Sumatera Selatan sembilan titik, dan Kalimantan Selatan dua titik. Adapun Jambi dan Riau tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Menhut Raja Juli Antoni menegaskan, penurunan jumlah titik panas tidak menjadi alasan untuk mengurangi upaya pemadaman, terutama di wilayah yang masih menghadapi kebakaran dan paparan asap.
“Penurunan hotspot secara nasional menjadi perkembangan yang perlu kita jaga. Namun, kondisi di lapangan berbeda-beda. Penanganan tetap harus diperkuat, khususnya di wilayah yang masih mengalami peningkatan titik panas dan kebakaran,” ujar Raja Juli Antoni dalam keterangan yang dikutip dari laman web Kemenhut, Minggu, 18 Oktober 2026.
Raja Juli Antoni terus memantau penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, termasuk kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, operasi pemadaman dari udara dilakukan sebanyak 16 kali melalui metode water bombing atau pengeboman air.
Dukungan operasi udara juga diperkuat dengan penyiapan tambahan dua helikopter milik TNI dan satu helikopter Kementerian Kehutanan. Langkah ini dilakukan untuk membantu menjangkau titik kebakaran yang sulit dipadamkan melalui jalur darat.
Selain pengerahan helikopter, tim gabungan memperkuat penanganan di lapangan melalui pembukaan akses menuju lokasi kebakaran, pembangunan sumur bor, penyediaan pompa, serta pemasangan jaringan distribusi air.
Personel Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, relawan, Masyarakat Peduli Api, dan warga setempat turut dilibatkan untuk mencegah api meluas ke kawasan konservasi, termasuk habitat orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting.
Usai memantau operasi di kawasan tersebut, Menhut melanjutkan peninjauan ke Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, pada Sabtu malam. Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi lapangan sekaligus memastikan personel tetap menjalankan upaya pengendalian kebakaran.
Raja Juli menekankan pentingnya memastikan api benar-benar padam, terutama di lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
“Pemadaman tidak cukup hanya dengan menghilangkan api yang terlihat. Bara di bawah permukaan gambut harus dipastikan padam agar kebakaran tidak kembali muncul dan meluas,” kata Raja Juli.
Penanganan di lahan gambut dilakukan melalui pembasahan, penyisiran bara, pendinginan, dan mopping up atau pemadaman lanjutan pada sisa titik api.
Sementara itu, upaya penanganan karhutla di Sumatera Selatan diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca yang berlangsung pada 16–25 Oktober 2026. Kegiatan ini dilaksanakan Kementerian Kehutanan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI.
Operasi tersebut menggunakan dry ice atau es kering untuk membantu memodifikasi kondisi atmosfer yang menyebabkan asap tertahan di dekat permukaan. Jika kondisi awan mendukung, penyemaian natrium klorida atau NaCl juga dilakukan untuk membantu pembentukan hujan.
Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, tercatat satu penerbangan untuk penyemaian dry ice dengan sekitar 800 kilogram bahan semai serta satu penerbangan penyemaian NaCl.
Pemantauan selama operasi menunjukkan adanya perbaikan jarak pandang di Palembang. Meski demikian, pemerintah tetap melanjutkan penanganan terpadu melalui pemadaman darat, operasi udara, pemantauan kualitas udara, dan penegakan hukum.
Secara nasional, pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla. Sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca, sedangkan 44 unit lainnya disiapkan untuk operasi water bombing.
Di tengah penurunan jumlah hotspot, kualitas udara di sejumlah wilayah masih perlu diwaspadai. Pemantauan berbasis konsentrasi partikel halus PM2.5 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan berbahaya secara lokal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan titik panas tidak selalu diikuti pemulihan kualitas udara secara langsung. Asap dari kebakaran, terutama di lahan gambut, dapat bertahan di atmosfer dan berpindah mengikuti arah angin.
Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker juga dianjurkan apabila harus beraktivitas di luar, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Menhut kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga yang menemukan titik api, kepulan asap, atau aktivitas pembakaran diminta segera melapor kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
“Penurunan jumlah hotspot harus diikuti dengan upaya memastikan api dan bara benar-benar padam. Kami terus memperkuat penanganan agar kebakaran tidak meluas, lingkungan tetap terlindungi, dan masyarakat dapat beraktivitas dengan aman,” ujar Raja Juli.
Kementerian Kehutanan menegaskan pengendalian karhutla akan terus dilakukan melalui koordinasi lintas instansi, penguatan personel, serta pengerahan sarana pemadaman hingga kondisi di wilayah terdampak terkendali.










