TVRINews – NTT
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 memicu gelombang tsunami di beberapa wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya, memaksa otoritas mengeluarkan status siaga tinggi serta instruksi evakuasi massal.
Kawasan timur Indonesia kembali menghadapi ujian berat setelah gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 menghantam wilayah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya pada Sabtu 15 Agustus 2026 dini hari.
Guncangan yang terjadi pukul 04.58 WIB tersebut berpusat di laut dengan kedalaman dangkal, sehingga langsung memicu sistem peringatan dini tsunami nasional akibat potensi perubahan muka air laut yang signifikan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa episenter gempa terletak pada jarak 30 kilometer arah timur laut Mbay-Nagekeo, dengan hiposenter berada di kedalaman 15 kilometer.
Tak berselang lama, aktivitas kegempaan susulan yang cukup signifikan turut tercatat berkekuatan magnitudo 5,6 pada pukul 05.18 WIB, berpusat di kedalaman 10 kilometer atau sekitar 61 kilometer utara-barat laut Ende.
Pemantauan langsung di sejumlah stasiun pengamatan laut menunjukkan bahwa gelombang tsunami kecil telah terdeteksi merayap ke kawasan pesisir. Berdasarkan data BMKG, kenaikan muka laut tercatat di Sikka dengan ketinggian 0,19 meter pada pukul 05.03 WIB, disusul wilayah Labuan Bajo setinggi 0,36 meter pada pukul 05.26 WIB, serta kawasan Dompu yang mencatatkan ketinggian gelombang 0,17 meter pada pukul 05.29 WIB.
Menghadapi situasi yang berkembang cepat di lapangan, pimpinan lembaga meteorologi menegaskan pentingnya kedisiplinan publik dalam merespons protokol keselamatan.
Dalam keterangan resminya, pihak otoritas BMKG menginstruksikan agar seluruh lini penanganan darurat bergerak secara terpadu. "Ikuti arahan peringatan dini tsunami dari BPBD, BNPB, dan BMKG," demikian imbauan resmi yang diserukan kepada masyarakat luas guna menghindari jatuhnya korban jiwa.
Sebagai langkah mitigasi struktural, pemerintah menetapkan status ancaman dengan level Siaga bagi delapan wilayah administratif di kawasan timur Indonesia yang mencakup sebagian Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Sementara itu, wilayah Dompu bagian utara di Nusa Tenggara Barat ditetapkan dalam status Waspada.
BMKG juga merilis rekomendasi "Evakuasi Menyeluruh" bagi pemerintah daerah di wilayah terdampak. Berdasarkan pemutakhiran tersebut, terdapat delapan wilayah yang diklasifikasikan masuk ke dalam status ancaman Siaga dengan rincian waktu sebagai berikut:
• Manggarai Bagian Utara (NTT): Status ancaman Siaga pada pukul 05:02:23 WIB.
• Ngada Bagian Utara (NTT): Status ancaman Siaga pada pukul 05:02:23 WIB.
• Manggarai-Barat Bagian Utara (NTT): Status ancaman Siaga pada pukul 05:03:23 WIB.
• Selayar (Sulsel): Status ancaman Siaga pada pukul 05:04:23 WIB.
• Ende Bagian Utara (NTT): Status ancaman Siaga pada pukul 05:05:23 WIB.
• Sikka Bagian Utara (NTT): Status ancaman Siaga pada pukul 05:13:23 WIB.
• Jeneponto (Sulsel): Status ancaman Siaga pada pukul 05:15:23 WIB.
• Bantaeng (Sulsel): Status ancaman Siaga pada pukul 05:46:23 WIB.










