TVRINews, Jakarta
Kementerian PPN/Bappenas menilai pengembangan biosolusi berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Nilai ekonomi biosolusi diproyeksikan meningkat hampir tiga kali lipat, dari hampir USD 1 miliar saat ini menjadi USD 2,3 miliar pada 2035.
Potensi tersebut tertuang dalam laporan The Value of Biosolutions: Growth and Prosperity to 2035 – Indonesia Editionyang diluncurkan di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
Laporan yang disusun Amsterdam Data Collective (ADC) atas prakarsa Novonesis bersama Kedutaan Besar Kerajaan Denmark itu menjadi kajian komprehensif pertama yang mengukur potensi dan nilai ekonomi biosolusi secara khusus di Indonesia.
Biosolusi merupakan pemanfaatan teknologi berbasis makhluk hidup untuk mengatasi berbagai persoalan di bidang lingkungan, pangan, dan energi, sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi.
Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa setiap satu lapangan kerja di industri biosolusi berpotensi menciptakan 3,8 pekerjaan tidak langsung di sektor lainnya. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang mencapai 2,4 pekerjaan tidak langsung.
Pengembangan biosolusi menjadi bagian dari upaya penyusunan Peta Jalan Pengembangan Bioekonomi Indonesia yang ditargetkan rampung pada akhir 2026. Kebijakan ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 yang menempatkan bioekonomi sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Teguh Sambodo mengatakan, pengembangan bioekonomi nasional akan difokuskan pada sejumlah klaster, meliputi pangan, energi, kesehatan, kosmetik, biomaterial, dan jasa lingkungan.
“Temuannya memberi kita bukti, arah, dan keyakinan bahwa kekayaan hayati Indonesia dapat menjadi mesin kuat bagi pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Biosolusi bukan sektor yang berdiri sendiri. Biosolusi adalah pendorong lintas klaster yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah di seluruh bioekonomi,” ujar Deputi Teguh dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis, 29 Oktober 2026.
Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia, Timor-Leste, Papua Nugini, dan ASEAN, H.E. Sten Frimodt Nielsen, menyampaikan bahwa pengembangan biosolusi juga membuka peluang untuk memperluas kerja sama Indonesia dan Denmark, yang pada 2025 memperingati 75 tahun hubungan diplomatik.
“Jika kita diberi pilihan antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan, kita sering merasa harus memilih salah satu. Tapi bagaimana jika inovasi dapat membantu kita mencapai keduanya. Di sinilah biosolusi dapat membuat perbedaan. Salah satu pelajaran penting dari pengalaman kami, inovasi membutuhkan kondisi yang tepat agar berhasil, regulasi yang jelas, investasi dalam riset dan pengembangan, serta kerja sama erat antara pemerintah, industri, dan akademisi,”ungkap Dubes Sten.
Sementara itu, Country Manager Novonesis Indonesia Ang Yonny Setiady optimistis Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pemimpin bioekonomi di kawasan Asia Tenggara.
“Indonesia memiliki modalitas dan ambisi yang kuat untuk menjadi pemimpin bioekonomi di Asia Tenggara. Melalui intervensi kebijakan yang tepat, biosolusi akan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan mengakselerasi pencapaian Visi Indonesia Emas 2045,”kata Yonny.
Pembahasan mengenai pengembangan biosolusi dilanjutkan melalui diskusi panel bertajuk Realizing the Value of Biosolutions: Advancing Indonesia’s Growth and Competitiveness.
Dalam diskusi tersebut, Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Kementerian PPN/Bappenas Dadang Jainal Mutaqin menekankan bahwa pengembangan bioekonomi harus mengoptimalkan sumber daya dan kemampuan riset dalam negeri.
“Pengembangan bioekonomi nasional harus bertumpu pada aset kita sendiri: mikroba indigenous, pengetahuan lokal, serta basis riset nasional yang ditopang kepastian pasar melalui kebijakan strategis seperti mandatori B50 dan E20. Peta Jalan yang sedang disusun diharapkan dapat mendorong komersialisasi riset, menyediakan fasilitas pilot plant, menjamin kepastian regulasi dan pembiayaan, serta memastikan pembagian manfaat yang adil bagi masyarakat,” tegas Direktur Dadang.
Seluruh temuan dalam laporan serta masukan dari diskusi panel akan menjadi bahan penyusunan Peta Jalan Bioekonomi Indonesia. Penyusunannya dilakukan secara inklusif dan partisipatif untuk mengoptimalkan potensi sumber daya hayati nasional, mendorong inovasi, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.










