TVRINews – Halmahera Utara
Detik-detik mencekam saat bongkahan batu besar menghantam para pendaki di kawah.
Sebuah ekspedisi pendakian di Gunung Dukono, Maluku Utara, berubah menjadi tragedi memilukan setelah erupsi mendadak merenggut nyawa tiga pendaki pada Jumat 8 Mei 2026 pekan lalu.
Pemandu wisata yang memimpin rombongan tersebut kini memberikan kesaksian mengenai detik-detik mencekam saat material vulkanik menghujam para pendaki.
Reza Selang, seorang pemandu wisata profesional yang memimpin kelompok pendaki menuju puncak Gunung Dukono, masih belum mampu menghapus trauma mendalam dari ingatannya.
Dalam sebuah wawancara eksklusif melalui sambungan telepon dengan BBC Internasional, Reza mengungkapkan duka yang mendalam atas insiden yang menewaskan dua warga negara Singapura dan satu warga negara Indonesia tersebut.
"Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan saya. Sampai sekarang saya masih merasa hancur, saya masih tidak percaya... saat ini saya benar-benar terpukul," ujar Reza dengan nada getir kepada BBC yang dikutip Selasa 12 Mei 2026.
Detik-Detik Erupsi Mendadak
Bencana bermula saat kelompok yang terdiri dari 20 pendaki gabungan asal Singapura dan Indonesia memulai pendakian pada Kamis 7 Mei sore.
Menurut Reza, saat itu kondisi gunung nampak sangat tenang tanpa tanda-tanda aktivitas vulkanik yang mencurigakan. Bahkan, pemantauan melalui kamera drone pada Jumat pagi menunjukkan kawah dalam kondisi bersih dari asap.
Namun, ketenangan itu sirna pada pukul 07:40 waktu setempat. Hanya dalam hitungan satu menit, gunung setinggi 1.335 mdpl itu meletus sebanyak dua kali. Letusan kedua melepaskan material vulkanik masif yang membuat para pendaki kocar-kacir menyelamatkan diri.
Reza mengisahkan momen heroik sekaligus tragis saat ia berusaha menyelamatkan Shahin Muhrez bin Abdul Hamid, pendaki asal Singapura yang terkapar di dekat kawah. Dibantu oleh Timothy Heng, pengelola ekspedisi asal Singapura, mereka mencoba menyeret Shahin turun di tengah hujan batu.
"Batu-batu jatuh di kiri dan kanan kami," kenang Reza. Sebuah bongkahan batu besar berdiameter sekitar dua meter meluncur ke arah mereka. Dalam sekejap mata, Timothy memeluk Shahin untuk melindunginya sebelum batu tersebut menghantam keduanya secara instan.
Proses Evakuasi dan Penemuan Korban
Tim SAR berhasil mengevakuasi jenazah Angel Krishela Pradita (Indonesia) pada hari Sabtu, disusul penemuan jasad Timothy Heng dan Shahin Muhrez pada hari Minggu 10 Mei.

(Tim penyelamat berhasil mengevakuasi jenazah salah satu pendaki pada hari Sabtu 10 Mei 2026 (Foto: BBC News))
Video dokumentasi dari otoritas penyelamat memperlihatkan proses evakuasi yang sulit di bawah lapisan abu vulkanik hitam yang tebal dan bongkahan batu besar.
Pihak berwenang menyatakan bahwa sejak 17 April, izin pendakian ke Gunung Dukono sebenarnya telah dilarang dengan radius sterilisasi sejauh 4 km dari kawah. Gunung ini tercatat telah meletus lebih dari 200 kali sejak akhir Maret lalu.
Tinjauan Hukum dan Dugaan Kelalaian
Kepolisian Resor Halmahera Utara kini tengah melakukan penyelidikan intensif terkait dugaan pelanggaran regulasi. "Ekspedisi pendakian ini sangat kuat diduga melanggar aturan," tulis pernyataan resmi Kepolisian Halmahera Utara.
Meski Reza mengaku tidak mengetahui adanya larangan resmi saat memulai perjalanan, ia menyadari bahwa Dukono berada pada Status Waspada (Level II).
Ia berdalih bahwa di banyak gunung berapi Level II lainnya di Indonesia, aktivitas pendakian seringkali masih ditoleransi oleh operator lokal.
Kini, pintu pendakian Gunung Dukono telah ditutup secara permanen. Reza, yang telah menyerahkan rekaman drone miliknya sebagai bukti kepada penyidik, menyatakan kesiapannya menghadapi konsekuensi hukum.
"Saya merasa sangat bersalah kepada para korban dan keluarga mereka. Saya ingin pergi ke Singapura, bersujud di kaki orang tua korban, dan memohon maaf," tutupnya.










