TVRINews, Jakarta
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong penguatan industri dalam negeri untuk mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Menurutnya, target kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) harus diimbangi dengan penguasaan teknologi dan pembangunan rantai pasok nasional.
Hal tersebut disampaikan Brian dalam Energy Leadership & Business Conference (ELBC) 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Brian menilai, besarnya kebutuhan pengembangan energi surya menjadi peluang untuk membangun industri nasional yang memanfaatkan hasil penelitian dalam negeri. Karena itu, perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia usaha perlu terlibat dalam satu ekosistem pengembangan teknologi.
“Tidak mungkin kita memiliki proyek sebesar itu tanpa membuat industri. Jadi, kami dari sisi regulator atau pemerintah, kami dari sisi peneliti bersama BRIN, tentu berharap munculnya industri yang menggunakan teknologi yang ditemukan baik oleh BRIN maupun perguruan tinggi dan peneliti lainnya,” ujar Brian dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Minggu, 1 November 2026.
Ia menjelaskan, perguruan tinggi memiliki peran dalam menghasilkan riset fundamental dan kekayaan intelektual (intellectual property). Sementara itu, industri diharapkan mengambil peran dalam mengembangkan hasil penelitian menjadi produk yang siap diterapkan.
Keterlibatan dunia usaha dinilai semakin penting ketika teknologi telah mencapai tingkat kesiapan atau Technology Readiness Level (TRL) 6–7. Pada tahap tersebut, hasil riset membutuhkan dukungan industri untuk pengembangan lebih lanjut dan penerapan dalam skala produksi.
Selain energi terbarukan, Brian menyoroti peluang pengembangan industri berbasis sumber daya mineral Indonesia. Komoditas seperti nikel, timah, emas, dan logam tanah jarang (rare earth) dinilai memiliki potensi besar apabila didukung teknologi pengolahan, pemisahan, dan pemurnian di dalam negeri.
Salah satu pengembangan yang tengah dilakukan Kemdiktisaintek bersama BRIN dan peneliti perguruan tinggi adalah teknologi pengolahan bijih menjadi mixed rare earth. Teknologi tersebut ditujukan untuk menghasilkan campuran logam tanah jarang dengan menghilangkan unsur pengotornya.
“Kami, peneliti dari perguruan tinggi bersama BRIN, sedang bekerja keras. Bulan depan kita akan membangun satu pabrik untuk mengubah ore menjadi mixed rare earth. Jadi masih campuran, tetapi pengotornya sudah dihilangkan,” ungkapnya.
Brian menambahkan, penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, BRIN, dan industri juga sejalan dengan agenda pengembangan teknologi nasional, termasuk pengembangan bahan bakar E50 dan Chip Merah Putih.
“Jadi ini yang kita harapkan, kita ingin terobosan-terobosan yang banyak bisa dihasilkan. Dan sekali lagi, perguruan tinggi, BRIN, dan industri ini menjadi kunci lahirnya industri berbasis sains dan teknologi di Indonesia,” tegas Brian.
Forum ELBC 2026 menjadi wadah pertemuan pimpinan industri, pengambil kebijakan, investor, dan inovator untuk membahas transisi energi, efisiensi bisnis, serta kepemimpinan berkelanjutan.
Melalui forum tersebut, Kemdiktisaintek mendorong agar hasil riset nasional tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat dikembangkan menjadi teknologi dan produk industri yang mendukung kebutuhan strategis Indonesia.









