TVRINews, Jakarta
Pemerintah berharap seni pertunjukan dapat terus berkembang sekaligus menjadi media edukasi publik terhadap berbagai isu kemanusiaan.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, hadir menyaksikan secara langsung pementasan monolog berjudul “Kalau Bukan Aku” yang ditulis dan dibawakan oleh Rahayu Saraswati Djojohadikusumo di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Pementasan teater tunggal ini mengangkat isu krusial mengenai perdagangan orang (human trafficking) melalui sudut pandang emosional keluarga korban. Dalam lakon tersebut, Rahayu Saraswati memerankan seorang perempuan yang berjuang mencari keberadaan adiknya yang hilang tanpa jejak akibat sindikat perdagangan manusia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan apresiasi tinggi atas pementasan tersebut. Menurutnya, kekuatan penghayatan karakter yang dibawakan bersumber langsung dari rekam jejak dan kepedulian mendalam Rahayu Saraswati dalam mengadvokasi pencegahan human trafficking di berbagai forum nasional maupun internasional selama bertahun-tahun.

(Menteri Kebudayaan Fadli Zon. [Foto: TVRINews/HO-Kemenbud])
“Pertunjukan ini mengangkat tema yang sangat penting tentang perdagangan manusia. Saya mengetahui dan menyaksikan sendiri perhatian Sarah terhadap isu ini sejak beberapa tahun lalu, termasuk keterlibatannya dalam forum internasional terkait human trafficking. Karena itu, pengalaman dan pemikirannya dalam upaya mencegah dan melawan perdagangan manusia memberikan penghayatan yang kuat ketika isu tersebut dibawakan melalui karya monolog,” puji Fadli Zon dalam keterangan tertulis yang diterima TVRINews.com, Sabtu, 26 September 2026.
Penguatan Ekosistem Seni Pertunjukan Nasional
Lebih lanjut, Menbud menilai bahwa penyelenggaraan pementasan ini sejalan dengan visi strategis Kementerian Kebudayaan dalam membangun dan memperkuat ekosistem seni pertunjukan di tanah air, yang mencakup teater, seni tari, hingga drama musikal.
“Ini merupakan salah satu kegiatan yang sejalan dengan visi Kementerian Kebudayaan, salah satunya membangun ekosistem seni pertunjukan. Di dalamnya ada teater, tari, dan berbagai bentuk pertunjukan lainnya. Teater menjadi salah satu bidang yang kita harapkan dapat terus kita majukan ekosistemnya sehingga tumbuh dan berkembang, sekaligus saling mendukung dengan musical play, drama musikal, dan bentuk-bentuk pertunjukan lainnya yang ke depan dapat menjadi bagian dari perkembangan seni pertunjukan Indonesia,” tegasnya.
Pementasan “Kalau Bukan Aku” sendiri merupakan bagian dari rangkaian MonoPlay Festival 2026. Mengusung tema “Lakon@cting”, festival teater monolog ini berlangsung pada 23–25 September 2026 di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Festival ini menampilkan deretan aktor ternama tanah air melalui karya monolog masing-masing, di antaranya:
* Kimberly Ryder lewat lakon “Aku Masih Di Sini”
* Sigit Hardadi lewat lakon “Jadi Diri Sendiri”
* Bagus Ade Saputra lewat lakon “Brain Rot”
* Tegar Bramanastrya lewat lakon “Saweran”
* Aktor tamu internasional, Yeliz Čelebić
Selain pementasan utama, MonoPlay Festival 2026 juga dimeriahkan oleh berbagai program pendukung seperti Panggung Sayap, Kelas Lakon@cting, pameran lukisan, hingga sesi diskusi Ngobrol Bareng Aktor.
Melalui pementasan seperti “Kalau Bukan Aku”, Kementerian Kebudayaan terus mendorong agar seni pertunjukan tidak sekadar berfungsi sebagai ruang ekspresi artistik, melainkan mampu menjadi media penyadaran publik terhadap isu-isu sosial kemanusiaan sekaligus memperkokoh fondasi ekosistem kebudayaan Indonesia.










