TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi melakukan pertemuan dengan Direktur Hubungan Kelembagaan PT. Agrinas Palma Nusantara (Persero) Mayjen (Purn) TNI Cucu Somantri.
Pertemuan membahas pengelolaan secara bersama kebun sawit yang dimiliki PT. Agrinas. Lahan yang dimiiliki persero di bawah Danantara ini mencapai 2,3 juta Ha yang tersebar dari Provinsi Aceh hingga Papua Selatan.
Dalam kerja sama, PT. Agrinas menyediakan lahan kebun sawit, sedang Kementrans menyediakan sumber tenaganya (transmigran).
Viva Yoga menyambut baik keinginan untuk melakukan kerja sama. Dikatakan Kementrans tidak bisa sendiri dalam merealisasikan program-program kerjanya. Selama ini berbagai kerja sama telah dijalin dengan berbagai pihak, mulai dari kementerian terkait, lembaga negara, BUMN, hingga perguruan tinggi.
”Saat ini Kita telah menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi dalam program Trans Patriot. Dengan BUMN kita juga menjalin kerja sama dengan PNM”, kata Viva Yoga, dikutip Jumat, 5 Mei 2026.
Terkait pengelolaan kebun sawit, bagi Kementrans bukan hal yang baru. Kawasan-kawasan transmigrasi yang ada di Sumatera mayoritas mengelola komoditas sawit. Diceritakan, beberapa waktu yang lalu dirinya mengunjungi Kawasan Transmigrasi Kuamang Kuning. Kawasan transmigrasi yang berada di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi itu mayoritas warganya. dari 1.000 kepala keluarga, merupakan petani sawit.
Penempatan transmigran sejak tahun 1985 itu mampu mensejahterakan warga di sana. Dengan kepemilikan lahan dari seorang transmigran yang mencapai 8 Ha, ia bisa mendapat penghasilan per bulan sebesar Rp15 Juta/2 Ha.
“Pengembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah”, ujar mantan Anggota Komisi IV DPR itu.
Diungkap sebelum lahan sawit itu dimiliki transmigran, mereka menjalin kerja sama dengan perusahaan swasta dengaan sistem inti plasma (PIR). Selepas kerja sama selesai, lahan itu dikelola transmigran secara mandiri.
“Lahan dan kelapa sawit yang di sana sudah menjadi miliknya”, tuturnya.
Viva Yoga mengatakan saat ini program transmigrasi bersifat bottom up. usulan dari bawah. Transmigrasi bisa terlaksana bila bupati mengajukan proposal bahwa kabupatennya ingin mendatangkan transmigran.
“Ada 61 proposal dari para bupati untuk mengajukan pembukaan kawasan baru transmigrasi”, ujarnya.
Dari rencana pembukaan kawasan baru inilah menurutnya bisa dijalin kerja sama dengan PT. Agrinas.
Transmigrasi saat ini orientasinya pada kesejahteraan masyarakat. Untuk itu masyarakat lokal bisa diberdayakan dengan Trans Lok atau transmigrasi lokal. Lahan-lahan kebun sawit yang dimiliki oleh PT. Agrinas yang tersebar, di antaranya di Papua Selatan, bisa dikelola olah warga asli di sana.
“Lahan sawit seluas 78.850,56 Ha di Papua Selatan bisa dikerjasamakan dengan Trans Lok”, pungkasnya.










